Tanggapan dari dalam negeri pun tak kalah keras. Esok harinya, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei bersuara. Ia menegaskan bahwa "para perusuh harus ditempatkan pada tempatnya" dan bersumpah untuk tidak "menyerah kepada musuh."
Pernyataan serupa diulang oleh Kepala Kehakiman, Gholamhossein Mohseni Ejei, pada Senin (5/1/2026). Ia bilang pemerintah akan mendengarkan keluhan sah warga tentang penghidupan mereka. Namun, kata dia, tidak akan ada toleransi untuk "para perusuh."
Di lapangan, situasi tetap tegang. Kantor Berita Fars, media semi-resmi garis keras, melaporkan adanya "pertemuan sporadis" di sekitar Pasar Besar Teheran yang berfokus pada kenaikan harga. Polisi membubarkan mereka ke lorong-lorong terdekat. Video lain dari ibu kota menunjukkan demo di Pasar Yaft Abad, pusat perbelanjaan Caterpillar, dan persimpangan Azari.
Kembali ke Ilam, Fars melaporkan petugas polisi tewas setelah "terkena langsung peluru perusuh" di Kabupaten Malekshahi. Rekaman dari daerah itu sebelumnya menunjukkan sebuah bank terbakar. Beberapa pria terlihat merayakan di tengah tumpukan perabotan, kertas, dan ban yang jadi abu.
Insiden di Ilam ini memicu reaksi. Kantor Presiden Masoud Pezeshkian mengaku telah memerintahkan pembentukan delegasi khusus untuk menyelidiki kerusuhan di sana. Langkah ini diambil setelah kemarahan publik memuncak akibat video yang beredar pada hari Minggu. Rekaman itu seolah menunjukkan pasukan keamanan menyerbu Rumah Sakit Imam Khomeini di Kota Ilam daerah mayoritas Kurdi tempat para demonstran yang terluka dikabarkan berlindung.
Kelompok hak asasi manusia Kurdi, Hengaw, punya cerita lain. Mereka menyatakan para demonstran di rumah sakit itu terluka setelah pasukan keamanan menembaki aksi di luar kompleks pemerintah Malekshahi pada Sabtu. Menurut Hengaw, lima demonstran tewas dalam insiden itu, termasuk seorang pensiunan brigadir jenderal. Mereka juga menyebut telah memverifikasi kematian setidaknya 27 orang sepanjang protes ini, dan di antaranya ada lima anak.
Media semi-resmi punya narasi berbeda: tiga orang, termasuk anggota keamanan, tewas saat "perusuh" mencoba masuk ke fasilitas keamanan.
Gelombang protes kali ini adalah yang terbesar sejak pemberontakan tahun 2022. Waktu itu, pemicunya adalah kematian Mahsa Amini, wanita muda Kurdi yang ditahan polisi moral. Menurut para aktivis HAM, lebih dari 550 orang tewas dan 20.000 ditahan dalam penindakan brutal terhadap protes 2022 itu. Kini, sejarah seperti berulang, dengan latar yang sama: krisis ekonomi dan ketegangan politik yang tak kunjung reda.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Melonjak Rp7.000, Sentuh Rp2,5 Juta per Gram
Komedi Mens Rea Pandji Pragiwaksono Berujung Laporan Pencemaran Nama Baik dan Penistaan Agama
Bauran Energi Hijau Indonesia Sentuh 15,75 Persen di 2025
Defisit APBN 2025 Sengaja Dibesarkan, Purbaya: Biar Ekonomi Tak Morat-Marit