Banjir Kembali Lumpuhkan Akses Jalan di Pidie Jaya
Hujan deras tak henti-hentinya mengguyur Pidie Jaya. Akibatnya, seperti sudah bisa ditebak, banjir luapan sungai pun datang lagi. Kali ini, Desa Pante Beureune menuju Desa Meunasah Mancang, Kecamatan Meurah Dua, yang jadi korban. Jalan lintas itu nyaris tak bisa dilewati.
Airnya cukup tinggi, mencapai paha orang dewasa. Kendaraan roda dua maupun empat jelas kesulitan. Situasi yang mirip terlihat di jalur lain, tepatnya dari Desa Blang Cut ke Desa Dayah Kruet. Genangannya disebut-sebut sama dalamnya.
Lalu, apa penyebabnya? Rupanya, ini efek berantai dari musibah sebelumnya. Banjir bandang dan longsor yang melanda akhir November lalu meninggalkan endapan lumpur tebal. Lumpur itulah yang sekarang menyumbat saluran drainase.
Jadi, ketika hujan turun, air tak punya jalan keluar. Alhasil, menggenanglah di badan jalan untuk waktu yang lama. Parahnya, sisa-sisa lumpur dari banjir bandang kemarin masih berserakan di mana-mana. Tumpukan itu makin menghambat air untuk mencari jalan ke saluran pembuangan.
“Akibat lumpur dan airnya juga masih banyak,”
kata Riska, seorang pengguna jalan, pada Jumat lalu. Keluhannya mewakili banyak warga lainnya.
Bagi mereka yang tinggal di sini, kejadian ini seperti rekaman yang diputar ulang. Setiap hujan deras mengguyur kawasan pegunungan, banjir luapan hampir pasti menyusul. Menurut warga, akar masalahnya ada pada kerusakan parah di sejumlah sungai. Sungai-sungai itu sudah tak lagi sama.
Ambil contoh daerah aliran Sungai Krueng Meureudu. Sebagian besar dilaporkan mengalami pendangkalan yang serius. Bantalan sungainya pun rusak. Dalam kondisi seperti itu, sungai kehilangan kemampuannya untuk menampung air hujan. Debit air yang besar langsung meluap dengan mudah, membanjiri permukiman dan jalan.
Harapan warga sekarang cuma satu: pemerintah segera turun tangan. Normalisasi sungai dan pembersihan drainase mendesak untuk dilakukan. Mereka lelah dengan banjir yang berulang. Mereka hanya ingin akses jalan normal kembali dan tak perlu was-was setiap kali mendung menggumpal di langit.
Artikel Terkait
Mentan: Swasembada Pangan Hanya Mungkin dengan Sinergi Pusat-Daerah
PN Jakarta Pusat Tolak Eksepsi Mardiono, Perkara Muktamar PPP Lanjut ke Pemeriksaan Bukti
Kejagung Ungkap Pemberi Suap Rp1,5 Miliar untuk Ketua Ombudsman Hery Susanto
PDAM Makassar Ungkap Penyebab Krisis Air di Wilayah Utara: Sistem Gravitasi dan Penyedotan Liar