Indonesia Tutup Impor Daging Babi Spanyol, Wabah Demam Babi Afrika Kembali Muncul

- Selasa, 06 Januari 2026 | 18:55 WIB
Indonesia Tutup Impor Daging Babi Spanyol, Wabah Demam Babi Afrika Kembali Muncul

Pemerintah Indonesia resmi menutup keran impor daging babi dari Spanyol. Langkah tegas ini diambil oleh Badan Karantina Indonesia (Barantin) menyusul kabar buruk dari organisasi kesehatan hewan dunia, WOAH. Ternyata, wabah African Swine Fever (ASF) kembali muncul di Spanyol, tepatnya di Provinsi Barcelona.

Dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (6/1/2026), Deputi Bidang Karantina Hewan, Sriyanto, menjelaskan dasar kebijakan ini. Ia merujuk pada laporan resmi WOAH dengan kode Event ID 7065.

"Berdasarkan informasi itu, kami sudah menginstruksikan semua unit teknis dan petugas di lapangan untuk meningkatkan kewaspadaan," ujar Sriyanto.

Menurutnya, pengetatan dilakukan terhadap semua lalu lintas daging babi dan produk turunannya yang berasal dari Spanyol.

Yang mengkhawatirkan, ini adalah kemunculan kembali penyakit yang sebenarnya sudah dinyatakan bebas sejak 1994. Statusnya kini adalah wabah berlangsung atau "on-going outbreak". Untuk mencegah virus mematikan itu menyebar ke dalam negeri, Barantin pun mengambil sikap keras.

"Daging babi dari Spanyol sama sekali tidak boleh masuk ke wilayah Indonesia," tegas Sriyanto. Ia menambahkan, kebijakan ini akan berlaku sampai situasi di Spanyol benar-benar dinyatakan pulih oleh WOAH.

Lalu, bagaimana jika ada yang mencoba memasukkan barang terlarang itu? Sriyanto menyebut konsekuensinya jelas: barang akan ditolak atau dimusnahkan di tempat oleh petugas karantina.

Di sisi lain, Barantin juga meminta dukungan dari berbagai instansi terkait. Kolaborasi ini penting, terutama untuk menyebarluaskan informasi ke masyarakat. Edukasi tentang bahaya ASF akan digencarkan di titik-titik masuk seperti bandara, pelabuhan, dan pos perbatasan.

Bagi yang belum familiar, Demam Babi Afrika ini memang ganas. Penyakit yang disebabkan virus ASF ini sangat menular di antara babi, baik ternak maupun liar. Angka kematiannya bisa menyentuh 100 persen. Kabar baiknya, ASF tidak berbahaya bagi manusia. Namun, dampak ekonominya bisa menghancurkan.

Virusnya sendiri terkenal bandel. Ia bisa bertahan lama di lingkungan, menempel di pakaian, sepatu, roda kendaraan, bahkan pada produk olahan seperti ham dan sosis. Inilah sebabnya pergerakan manusia dan barang menjadi faktor kunci penyebaran.

Upaya pencegahan ini bukan tanpa alasan. Menurut Sriyanto, selain untuk melindungi peternakan lokal dari kerugian besar, langkah ini juga menjaga populasi babi asli Indonesia dari ancaman kepunahan.

Terakhir, ia mengajak masyarakat untuk turut berperan. Jika melihat peredaran komoditas hewan yang mencurigakan atau tidak memenuhi aturan, laporkan saja.

"Masyarakat bisa menghubungi petugas karantina terdekat atau melalui WA Center Barantin di nomor 08111920336," pungkasnya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar