Polri Gandeng Polisi Hong Kong Kaji Ulang Strategi Penanganan Unjuk Rasa

- Senin, 24 November 2025 | 15:18 WIB
Polri Gandeng Polisi Hong Kong Kaji Ulang Strategi Penanganan Unjuk Rasa
Pendekatan Baru Polri dalam Menangani Unjuk Rasa

Di kawasan latihan Brimob Cikeas, Kabupaten Bogor, suasana pagi itu tampak berbeda. Polri baru saja menggelar Apel Kasatwil 2025 pada Senin (24/11), sebuah acara yang menarik perhatian karena kehadiran tamu khusus: Kepolisian Hong Kong.

Kehadiran mereka bukan tanpa alasan. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan, pihaknya sengaja mengundang rekanan dari Hong Kong untuk mempelajari berbagai model penanganan unjuk rasa. "Kita ingin mencari model-model untuk penanganan aksi, khususnya terkait dengan kebebasan mengeluarkan pendapat," ujar Sigit.

Rupanya, ada perubahan signifikan dalam pendekatan Polri. Dari yang sebelumnya berfokus pada 'menjaga', kini bergeser menjadi 'melayani'. Perubahan tagline ini bukan sekadar jargon.

"Tagline kita juga kita ubah dari yang awalnya menjaga menjadi melayani," tegas Sigit.

Menurutnya, sejak pemberitahuan aksi diterima, Polri harus hadir untuk memfasilitasi. "Artinya terhadap saudara-saudara kita yang ingin menyampaikan pendapat di muka umum, maka peran Polri memberikan pelayanan semenjak mulai dari diberitahukan."

Di sisi lain, Polri juga punya concern lain. Mereka ingin memastikan komunikasi antara peserta aksi dan institusi terkait berjalan efektif. Tujuannya jelas: agar penyampaian pendapat tidak terdistorsi atau malah ditunggangi pihak tertentu.

Tak berhenti di situ, ada hal lain yang akan dipelajari Polri. Mereka sedang mencari model yang tepat untuk membedakan antara massa yang menyampaikan kebebasan berpendapat dan situasi yang berpotensi berkembang menjadi rusuh. Ini penting karena penanganannya pasti berbeda.

Sigit menekankan, penanganan kerusuhan harus terukur dan yang paling utama: menghindari korban jiwa.

"Kita akan melihat model-model yang ada sehingga kemudian kita mendapatkan satu pola yang benar, yang terukur untuk membedakan mana yang melakukan kebebasan berpendapat," jelasnya panjang lebar. "Di satu sisi kita menjaga atau meng-cluster agar pada saat ada aksi rusuh massa ini juga bisa kita tangani tentunya dengan terukur dengan menghindari potensi terjadinya korban jiwa."

Dalam dinamika keamanan yang terus berubah, Sigit menegaskan Polri harus semakin adaptif. Tekad ini disampaikannya di hadapan para peserta apel.

"Intinya kita harapkan dengan Apel Kasatwil ini, tentunya ini menjadi semangat Polri untuk kemudian mengkonsolidasikan ulang dan kemudian mewujudkan institusi Polri yang lebih responsif, adaptif," katanya. Harapannya, Polri bisa betul-betul mewujudkan institusi yang sesuai harapan masyarakat.

Acara itu sendiri juga menghadirkan pembicara lain yang tak kalah kompeten. Tampak hadir Ketua Tim Reformasi Polri Prof Jimly Asshiddiqie dan Prof Mahfud MD yang turut memberikan pandangannya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar