Banjir bandang yang tiba-tiba melanda Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, Senin lalu, meninggalkan duka yang dalam. Setidaknya 11 orang tewas, sementara lima lainnya masih hilang dan 17 luka-luka. Bencana di awal tahun 2026 itu memaksa ratusan warga meninggalkan rumah mereka; 444 jiwa dari 143 keluarga terpaksa mengungsi mencari tempat yang lebih aman.
Menurut Abdul Muhari dari BNPB, status tanggap darurat langsung ditetapkan oleh pemda, berlaku hingga dua pekan ke depan. Meski air sudah mulai surut, kata dia, pencarian korban hilang tak henti dilakukan oleh tim gabungan di lapangan.
“Saat ini, banjir telah surut, namun upaya pencarian terhadap korban yang masih hilang terus dilakukan oleh tim gabungan di lapangan,” jelas Muhari.
Rupanya, bencana tak hanya terjadi di Sitaro. Di hari yang sama, Kota Banjarbaru di Kalimantan Selatan juga kebanjiran. Sekitar 175 jiwa terdampak dan 57 rumah di Desa Landasan Ulin terendam. Yang memprihatinkan, genangan air setinggi 40 sentimeter masih terlihat hingga berita ini dirilis.
Di sisi lain, Jawa Timur juga tak luput. Sehari sebelumnya, Minggu (4/1), lima desa di Kecamatan Sampang tergenang. Hampir 350 keluarga merasakan dampaknya. Memang air di beberapa titik mulai menyusut, tapi aliran menuju hilir justru membuat daerah lain waspada, apalagi hujan belum sepenuhnya reda.
Laporan serupa terus berdatangan ke BNPB. Di Jawa Tengah, hujan deras mengguyur Kabupaten Grobogan dan membanjiri tiga desa. Sekitar 140 rumah terdampak, meski kondisi sekarang airnya sudah perlahan surut.
Sementara itu, di Jawa Barat, Kota Cirebon cukup parah terdampak. Lebih dari 1.200 keluarga atau hampir 4.000 jiwa merasakan akibatnya, dengan 130 orang di antaranya harus mengungsi. Wilayahnya tersebar di lima kelurahan. Kabar baiknya, banjir di sini sudah surut dan warga mulai sibuk membersihkan lumpur serta sampah yang ditinggalkan air.
Tak ketinggalan, Lampung juga mengalami hal serupa. Faktor cuaca memicu banjir di dua desa di Kabupaten Pesawaran, yang berdampak pada 320 keluarga. Nasib kedua desa agak berbeda: genangan di Desa Panengahan mulai berkurang, tapi di Desa Mada Jaya air masih bertahan.
Muhari menegaskan, BNPB terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pihak. Fokusnya pada penanganan darurat yang optimal, mulai dari pemantauan lapangan, pemenuhan kebutuhan dasar, hingga kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana susulan. Semua ini dilakukan dalam situasi cuaca yang masih tak menentu dan berpotensi hujan lebat.
Artikel Terkait
Mantan Agen CIA Klaim Trump Siap Serang Iran Pekan Depan di Tengah Jalur Diplomasi Aktif
Trump Pertanyakan Sikap Iran Meski AS Kerahkan Kekuatan Militer Signifikan
Pemerintah Targetkan Cairkan THR ASN di Awal Ramadan 2026
Pemerintah Tegaskan Aturan Sertifikasi Halal untuk Produk AS Tetap Berlaku