Subsektor tanaman perkebunan rakyat tercatat mengalami penurunan NTP terdalam, yakni sebesar 1,25 persen. Pudji memaparkan, kondisi ini terjadi karena indeks harga yang diterima (It) justru turun 0,14 persen. Sementara itu, indeks harga yang dibayar (Ib) malah naik 1,13 persen. Situasi ini jelas mempersempit ruang napas petani perkebunan.
"Komoditas yang dominan mempengaruhi penurunan It ini adalah tebu, kelapa sawit, kelapa dan biji jambu mete," tambahnya.
Lalu, bagaimana dengan para nelayan? Kabarnya cukup menggembirakan. Nilai Tukar Nelayan (NTN) pada periode yang sama mengalami kenaikan sebesar 0,36 persen. Pemicunya serupa: kenaikan indeks yang diterima nelayan (sebesar 1,21 persen) berhasil mengungguli kenaikan indeks yang dibayar (0,85 persen).
Beberapa hasil tangkapan laut menjadi penyumbang utama kenaikan tersebut. Komoditas seperti tongkol, cakalang, kembung, dan layang disebut-sebut paling dominan mendongkrak indeks harga yang diterima para nelayan.
Secara keseluruhan, lanskap akhir tahun 2025 menunjukkan perbaikan bagi petani dan nelayan secara agregat. Meski demikian, data BPS juga mengingatkan kita bahwa di balik angka rata-rata yang positif, selalu ada cerita lain yang perlu diperhatikan.
Artikel Terkait
Iran Tuduh AS Langgar Poin-Poin Gencatan Senjata, Negosiasi Diambang Kegagalan
Pemerintah Pastikan Pasokan LPG Aman Meski Selat Hormuz Tegang
Pemerintah Siapkan Implementasi B50 Mulai Juli 2026, Proyeksi Hemat Subsidi Rp48 Triliun
Groundbreaking Pabrik Melamin Pertama Indonesia Senilai Rp10,2 Triliun Digelar Pekan Depan di Gresik