Mulai 1 Juli 2026 nanti, Indonesia bakal punya kebijakan baru soal bahan bakar. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto bilang, penerapan biodiesel B50 ini berpotensi ngirit anggaran negara sampai puluhan triliun rupiah setiap tahunnya. Angkanya gak main-main, lho. Bisa mencapai Rp48 triliun.
Gimana caranya? Intinya, B50 itu campuran setengah-setan antara solar biasa dengan bahan bakar nabati dari sawit. Dengan komposisi ini, impor BBM solar diproyeksikan bisa ditekan hingga 4 juta kiloliter per tahun. Lumayan banget, kan?
“Dalam satu tahun, bahkan dalam enam bulan saja, sudah ada penghematan dari penggunaan bahan bakar fosil dan juga penghematan subsidi dari biodiesel yang diperkirakan mencapai Rp48 triliun,” ujar Airlangga, Kamis (9/4/2026).
Di sisi lain, ini bukan cuma soal anggaran. Pemerintah lagi getol cari solusi pengganti bahan bakar fosil yang lebih ramah lingkungan. Jadi, mandatori B50 punya tujuan ganda: menghemat uang negara sekaligus mendukung keberlanjutan dan ketahanan energi. Jadi, ketika harga energi global lagi bergejolak, kita gak terlalu ketar-ketir.
Nah, soal kesiapan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut uji coba B50 udah di penghujung jalan.
“B50 sudah hampir enam bulan kita uji coba pada berbagai peralatan seperti alat berat, kapal, kereta api, dan truk. Uji coba masih terus berjalan, tetapi sebentar lagi akan final. Hingga hari ini, hasilnya alhamdulillah cukup baik. Mulai 1 Juli, B50 akan diterapkan,” kata Bahlil dari kantornya.
Artikel Terkait
Pertamina NRE Gandeng Perusahaan Singapura Kembangkan Biometanol dari Biogas di Sei Mangkei
Harga Minyak Goreng dan Beras Naik, Cabai dan Telur Turun pada Kamis (9/4)
Iran Tuduh AS Langgar Poin-Poin Gencatan Senjata, Negosiasi Diambang Kegagalan
Pemerintah Pastikan Pasokan LPG Aman Meski Selat Hormuz Tegang