Konsistensi ini yang coba dijaga. Tak hanya bantuan barang, mereka juga terlibat dalam pembangunan 600 unit hunian sementara di Aceh Tamiang di awal tahun. Komitmennya terasa, ingin benar-benar hadir di tengah masyarakat yang sedang berjuang.
Dan ujung tombaknya ada di lapangan. Relawan Mandiri Tanggap Bencana batch kedua, yang berjumlah 20 orang dari berbagai unit, baru saja dikirim untuk menggantikan rekan-rekan sebelumnya di Gayo Luwes. Mereka bukan cuma bagi-bagi logistik.
Tugasnya lebih dari itu. Mengoperasikan posko tanggap bencana, mengurusi dapur umum, sampai pada pendampingan kesehatan dan trauma healing. Intinya, pendampingan dilakukan secara langsung dan menyeluruh.
Kolaborasi dengan Kemenhan ini, jika dipikir-pikir, memang menarik. Dua institusi yang bidangnya berbeda bisa bersinergi merespons kebutuhan mendesak. Harapannya sederhana: jembatan itu bisa menjadi penghubung vital. Untuk mobilitas warga, untuk distribusi bantuan, dan untuk akses layanan publik yang lebih lancar. Dengan begitu, proses pemulihan baik sosial maupun ekonomi bisa berjalan lebih optimal.
Semua langkah ini pada akhirnya ingin menegaskan satu hal: peran strategisnya dalam mendampingi pemulihan, dengan cara yang cepat dan berdampak nyata.
Artikel Terkait
Ekspor Tempe Senilai Rp2,1 Miliar ke Chile Jadi Pintu Masuk Pasar Amerika Latin
Iran Klaim Tembak Jatuh Helikopter dan Pesawat AS, Washington Bantah
Ahli Serukan Penggunaan BBM Bijak sebagai Tanggapan Krisis Geopolitik dan Iklim
Libur Paskah Dongkrak Omzet Sewa Sepeda Ontel di Kota Tua Jakarta