Konsistensi ini yang coba dijaga. Tak hanya bantuan barang, mereka juga terlibat dalam pembangunan 600 unit hunian sementara di Aceh Tamiang di awal tahun. Komitmennya terasa, ingin benar-benar hadir di tengah masyarakat yang sedang berjuang.
Dan ujung tombaknya ada di lapangan. Relawan Mandiri Tanggap Bencana batch kedua, yang berjumlah 20 orang dari berbagai unit, baru saja dikirim untuk menggantikan rekan-rekan sebelumnya di Gayo Luwes. Mereka bukan cuma bagi-bagi logistik.
Tugasnya lebih dari itu. Mengoperasikan posko tanggap bencana, mengurusi dapur umum, sampai pada pendampingan kesehatan dan trauma healing. Intinya, pendampingan dilakukan secara langsung dan menyeluruh.
Kolaborasi dengan Kemenhan ini, jika dipikir-pikir, memang menarik. Dua institusi yang bidangnya berbeda bisa bersinergi merespons kebutuhan mendesak. Harapannya sederhana: jembatan itu bisa menjadi penghubung vital. Untuk mobilitas warga, untuk distribusi bantuan, dan untuk akses layanan publik yang lebih lancar. Dengan begitu, proses pemulihan baik sosial maupun ekonomi bisa berjalan lebih optimal.
Semua langkah ini pada akhirnya ingin menegaskan satu hal: peran strategisnya dalam mendampingi pemulihan, dengan cara yang cepat dan berdampak nyata.
Artikel Terkait
Raja Tuna Jepang Rogoh Rp54,6 Miliar Demi Ikan Pembuka Tahun Baru
BNN Gerebek Pabrik Liquid Vape dan Happy Water di Apartemen Mewah Ancol
Prabowo Minta Program Makan Gratis Dibenahi, Anggaran Rp335 Triliun Dinilai Cukup
34 Kota Siap Olah Sampah Jadi Listrik, Proyek Dimulai 2026