Jadi anak bungsu itu enak, ya? Stereotipnya selalu sama: paling dimanja, hidupnya gampang, dan selalu dapat perlindungan. Tapi, coba tanya langsung pada mereka yang menjalaninya. Bukan semua cerita berakhir bahagia. Banyak dari anak terakhir ini justru merasa tersisih, kesepian, dan punya jarak yang tak terlihat dengan keluarganya sendiri.
Sebagai anak perempuan terakhir, saya sering mendengar kalimat itu. "Wah, enak banget jadi anak bungsu. Santai, kakak-kakak udah pada sukses."
Buat saya, itu omong kosong.
Mungkin di beberapa sisi ada benarnya. Tapi realitanya seringkali jauh berbeda. Saya malah merasakan hal sebaliknya. Kakak-kakak punya dunianya sendiri, apalagi kalau jarak umurnya jauh. Mereka sudah sibuk dengan karir, pasangan, dan tanggung jawab mereka yang lain. Lalu kita? Kita tetap harus menjalani hidup kita sendiri, seringkali merasa seperti penonton di rumah sendiri.
Selalu Jadi yang Terakhir Tahu
Pernah nggak sih, kamu sebagai anak bungsu diajak diskusi serius keluarga? Seringnya sih nggak. Alasannya klasik: "Kamu masih kecil, belum ngerti." Kita disingkirkan dari percakapan-percakapan yang dianggap 'dewasa'.
Psikolog Blair L. pernah menyinggung soal ini. Dalam bukunya Birth Order, dia bilang anak dengan jarak lima tahun atau lebih dari saudara terdekatnya sering berfungsi seperti anak tunggal secara psikologis.
Artikel Terkait
Pencarian Syafiq Ridhan di Gunung Slamet: Tongkat dan Doa Seorang Ayah di Hutan Belantara
Royman dan Alarm Demokrasi: Saat Watchdog Dihantam di Morowali
Kiai Didin: Di Balik Kesulitan, Selalu Ada Kemudahan
Mantan Misionaris yang Berburu Cacat Al-Quran, Justru Tersungkur di Ayat Ini