Jadi anak bungsu itu enak, ya? Stereotipnya selalu sama: paling dimanja, hidupnya gampang, dan selalu dapat perlindungan. Tapi, coba tanya langsung pada mereka yang menjalaninya. Bukan semua cerita berakhir bahagia. Banyak dari anak terakhir ini justru merasa tersisih, kesepian, dan punya jarak yang tak terlihat dengan keluarganya sendiri.
Sebagai anak perempuan terakhir, saya sering mendengar kalimat itu. "Wah, enak banget jadi anak bungsu. Santai, kakak-kakak udah pada sukses."
Buat saya, itu omong kosong.
Mungkin di beberapa sisi ada benarnya. Tapi realitanya seringkali jauh berbeda. Saya malah merasakan hal sebaliknya. Kakak-kakak punya dunianya sendiri, apalagi kalau jarak umurnya jauh. Mereka sudah sibuk dengan karir, pasangan, dan tanggung jawab mereka yang lain. Lalu kita? Kita tetap harus menjalani hidup kita sendiri, seringkali merasa seperti penonton di rumah sendiri.
Selalu Jadi yang Terakhir Tahu
Pernah nggak sih, kamu sebagai anak bungsu diajak diskusi serius keluarga? Seringnya sih nggak. Alasannya klasik: "Kamu masih kecil, belum ngerti." Kita disingkirkan dari percakapan-percakapan yang dianggap 'dewasa'.
Psikolog Blair L. pernah menyinggung soal ini. Dalam bukunya Birth Order, dia bilang anak dengan jarak lima tahun atau lebih dari saudara terdekatnya sering berfungsi seperti anak tunggal secara psikologis.
"Mereka menyaksikan 'dunia dewasa' saudara dan orang tua mereka dari kejauhan."
Nah, posisi sebagai pengamat dari jauh inilah yang bikin suasana rumah terasa sunyi. Bukan sunyi dalam arti sepi, tapi sunyi karena keterasingan. Kamu lihat pintu kamar kakak yang tertutup, dengar obrolan mereka yang samar-samar, tapi kamu nggak pernah benar-benar dilibatkan.
Komunikasi yang datang cenderung satu arah dan instruktif. "Udah makan?" atau "PR-nya dikerjain." Jarang sekali ada yang bertanya, "Hari ini gimana perasaanmu?" atau minta pendapat kita soal sesuatu yang penting. Akibatnya, kita merasa seperti tidak punya tempat dalam cerita keluarga sendiri.
Keinginan Aneh untuk Punya Adik
Dari situlah muncul keinginan yang mungkin terdengar aneh: pengen punya adik. Ini bukan cuma soal pengen ada teman main. Lebih dalam lagi, ini tentang keinginan untuk punya seseorang yang setara. Seseorang yang bisa diajak ngobrol tanpa merasa diri ini "yang paling kecil" atau "yang paling nggak tahu apa-apa".
Alfred Adler, psikolog yang mendalami urutan kelahiran, pernah menjelaskan fenomena ini. Anak bungsu, katanya, sering merasa kesepian karena tidak punya "pengikut" di rumah.
"Anak bungsu berada dalam posisi yang aneh; mereka tidak memiliki penerus. Dalam keluarga di mana setiap orang sibuk dengan perkembangan mereka sendiri, anak bungsu mungkin menderita karena kurangnya persahabatan, yang memicu keinginan mendalam untuk memiliki seseorang 'di bawah' mereka untuk dirawat," tulisnya di The Science of Living.
Tapi jangan salah paham. Keinginan merawat ini nggak selalu soal kekuasaan atau pengakuan. Ini lebih tentang kesempatan untuk akhirnya bisa terlibat. Selama ini cuma jadi pendengar atau penerima perintah, jadi wajar kalau muncul dorongan untuk punya hubungan di mana kita bisa berperan aktif. Di mana kehadiran kita berarti.
Jadi, rasa sepi yang dialami anak bungsu itu nggak datang tiba-tiba. Itu adalah hasil dari dinamika keluarga yang sadar atau tidak selalu menempatkan si bungsu di urutan terakhir. Baik dalam hal umur, maupun dalam hal siapa yang suaranya didengarkan.
Artikel Terkait
Nilai Tukar Petani Nasional Naik 1,99 Persen pada Mei 2026, Hortikultura Catat Lonjakan Tertinggi
Suwardi Tahir Terpilih Secara Aklamasi sebagai Ketua PWI Sulsel Periode 2026–2031
BMKG: Sebagian Besar Wilayah Sulsel Cerah Berawan, Sejumlah Daerah Berpotensi Hujan Ringan-Sedang
Ana/Trias Taklukan Wakil India, Lolos ke 16 Besar Indonesia Open 2026