Di Balik Stereotip Manja: Kesepian yang Tak Terungkap dari Anak Bungsu

- Rabu, 07 Januari 2026 | 05:06 WIB
Di Balik Stereotip Manja: Kesepian yang Tak Terungkap dari Anak Bungsu

Nah, posisi sebagai pengamat dari jauh inilah yang bikin suasana rumah terasa sunyi. Bukan sunyi dalam arti sepi, tapi sunyi karena keterasingan. Kamu lihat pintu kamar kakak yang tertutup, dengar obrolan mereka yang samar-samar, tapi kamu nggak pernah benar-benar dilibatkan.

Komunikasi yang datang cenderung satu arah dan instruktif. "Udah makan?" atau "PR-nya dikerjain." Jarang sekali ada yang bertanya, "Hari ini gimana perasaanmu?" atau minta pendapat kita soal sesuatu yang penting. Akibatnya, kita merasa seperti tidak punya tempat dalam cerita keluarga sendiri.

Keinginan Aneh untuk Punya Adik

Dari situlah muncul keinginan yang mungkin terdengar aneh: pengen punya adik. Ini bukan cuma soal pengen ada teman main. Lebih dalam lagi, ini tentang keinginan untuk punya seseorang yang setara. Seseorang yang bisa diajak ngobrol tanpa merasa diri ini "yang paling kecil" atau "yang paling nggak tahu apa-apa".

Alfred Adler, psikolog yang mendalami urutan kelahiran, pernah menjelaskan fenomena ini. Anak bungsu, katanya, sering merasa kesepian karena tidak punya "pengikut" di rumah.

Tapi jangan salah paham. Keinginan merawat ini nggak selalu soal kekuasaan atau pengakuan. Ini lebih tentang kesempatan untuk akhirnya bisa terlibat. Selama ini cuma jadi pendengar atau penerima perintah, jadi wajar kalau muncul dorongan untuk punya hubungan di mana kita bisa berperan aktif. Di mana kehadiran kita berarti.

Jadi, rasa sepi yang dialami anak bungsu itu nggak datang tiba-tiba. Itu adalah hasil dari dinamika keluarga yang sadar atau tidak selalu menempatkan si bungsu di urutan terakhir. Baik dalam hal umur, maupun dalam hal siapa yang suaranya didengarkan.


Halaman:

Komentar