Ia mengakui, performa pajak saat ini adalah bayangan dari kondisi sembilan bulan pertama 2025. Sebuah realitas yang, mau tidak mau, harus dihadapi. “Jadi, ini kan dampak yang kemarin. Kita nggak bisa hilangin kan yang 9 bulan pertama tahun ini,” tuturnya dengan nada realistis.
Lalu bagaimana dengan kekhawatiran masyarakat? Banyak yang bertanya-tanya, jangan-jangan pemerintah akan main gebuk untuk mengejar target di sisa waktu yang mepet. Purbaya langsung menepis spekulasi semacam itu.
“Nggak ada, santai,” tukasnya singkat.
“Biasa-biasa aja penarikannya.”
Jaminan itu diberikan sambil ia menatap tahun depan dengan optimisme. Sebagai bendahara negara, Purbaya yakin kinerja fiskal akan membaik seiring target pertumbuhan ekonomi yang lebih progresif. Ambisinya jelas: mendorong ekonomi tumbuh hingga 6 persen. “Yang jelas tahun depan semuanya akan lebih baik lagi,” ucapnya penuh keyakinan.
Data terbaru hingga November 2025 mencatat realisasi penerimaan pajak sebesar Rp1.634,43 triliun. Angka itu baru mencapai sekitar 74,65 persen dari target APBN 2025 yang ditetapkan sebesar Rp2.189,3 triliun. Jaraknya masih cukup jauh, memang. Tapi bagi Purbaya, yang penting defisit tetap terkendali dan langkah perbaikan terus berjalan.
Artikel Terkait
Lebaran di Kota Tua: Ramai Wisatawan dan Cerita Warga yang Pilih Tak Mudik
CEO BlackRock Peringatkan AI Berpotensi Perlebar Kesenjangan Kekayaan
Fabregas Persembahkan Kemenangan Telak Como untuk Almarhum Michael Bambang Hartono
Arus Balik Diprediksi Puncak Besok, Bakauheni Sudah Padat Sejak Hari Ini