Sebanyak 55 siswa akhirnya terpilih. Mereka datang dari berbagai wilayah operasi hulu migas, seperti Kepulauan Tanimbar, Kutai Kartanegara, Bojonegoro, Aceh Utara, dan Lhokseumawe. Prosesnya tidak mudah.
Sebelum bertemu langsung dalam workshop, mereka harus melalui pembelajaran daring selama empat minggu penuh. Mereka mengikuti sesi live mingguan bersama fasilitator dari berbagai negara. Semua sesi berjalan dalam bahasa Inggris, dengan tujuan mengasah nalar kritis, kemampuan public speaking, sekaligus membangun kepercayaan diri sebagai bagian dari warga dunia.
Fani Salsabila, Global Digital Program Specialist Bina Antarbudaya, mengungkapkan betapa ketatnya seleksi. Dari sekitar tiga ratus pendaftar, hanya 55 yang berhasil lolos.
"Para peserta menunjukkan komitmen dan kegigihan yang luar biasa dalam menuntaskan program. Ini adalah kelompok pertama yang sejak kick-off session sudah menunjukkan semangat," kata Fani.
Ia punya harapan besar. Setelah program usai, para peserta ini bisa pulang ke daerah masing-masing dan menjadi agen perubahan. Mereka diharapkan bisa menginspirasi sekelilingnya dan, yang paling penting, menjalankan proyek-proyek nyata yang bermanfaat.
Jadi, lewat program seperti ini, upaya membangun kompetensi generasi muda di sektor energi benar-benar dijalankan langkah demi langkah. Bukan sekadar rencana di atas kertas.
Artikel Terkait
Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka, Kecuali untuk Kapal Musuh
Sampah dan Hujan Deras Picu Banjir di Tol Jagorawi Saat Arus Mudik
Korlantas Imbau Pemudik Hindari Puncak Arus Balik 24 Maret
Iran Ancam Serang Infrastruktur Energi Regional Balas Ultimatum Trump