Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berhasil meraih kesepakatan penting. Bersama sembilan raksasa farmasi, mereka sepakat untuk memangkas harga obat-obatan. Ini adalah langkah yang cukup signifikan, mengingat isu mahalnya obat di AS sudah jadi perdebatan panjang.
Menurut laporan Reuters, kesepakatan ini melibatkan nama-nama besar. Bristol Myers Squibb, Gilead Sciences, dan Merck ada di dalamnya. Tak ketinggalan, unit AS dari Roche, yaitu Genentech, juga ikut menandatangani. Di sisi lain, daftar perusahaan farmasi yang terikat perjanjian ternyata lebih panjang lagi. Ada Novartis, Amgen, Boehringer Ingelheim, Sanofi, dan GSK.
Para pejabat senior pemerintah menjelaskan inti kesepakatannya.
"Berdasarkan kesepakatan tersebut, setiap produsen obat akan memangkas harga sebagian besar obat yang dijual ke program Medicaid untuk masyarakat berpenghasilan rendah," kata mereka.
Trump sendiri menjanjikan penghematan yang besar. Dia bilang obat-obatan yang banyak digunakan akan lebih terjangkau, meski angka pastinya belum disebutkan. Janji ini tentu ditunggu banyak pihak. Soalnya, selama ini pasien di AS terbebani harga obat resep yang selangit bisa sampai tiga kali lipat lebih mahal dibanding negara maju lain. Tekanan Trump agar harga disamakan dengan negara lain akhirnya membuahkan hasil.
Namun begitu, detail teknis setiap kesepakatan masih belum sepenuhnya jelas. Yang sudah dipastikan pejabat, perjanjian ini mencakup pemotongan harga tunai langsung ke konsumen untuk obat-obatan tertentu. Nantinya, obat-obatan itu berpotensi dijual lewat situs web TrumpRx.gov. Sebagai imbalannya, perusahaan-perusahaan farmasi itu bakal mendapat keringanan: pengecualian tarif selama tiga tahun ke depan.
Langkah ini bisa dibilang gebrakan. Tapi, bagaimana implementasinya nanti, kita lihat saja.
Artikel Terkait
Cadangan Devisa Indonesia Turun Jadi 146,2 Miliar Dolar AS per Akhir April 2026
Cadangan Devisa Indonesia Turun Jadi 146,2 Miliar Dolar AS per April 2026
Anggota BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran Rumah di Jagakarsa
Mualaf Center Indonesia Jadi Sasaran Intimidasi Warganet Akibat Kasus Sertifikat Mualaf Richard Lee