Perbankan Indonesia Tunjukkan Ketangguhan, Kredit Tumbuh 7,36% di Tengah Ketidakpastian

- Sabtu, 20 Desember 2025 | 07:25 WIB
Perbankan Indonesia Tunjukkan Ketangguhan, Kredit Tumbuh 7,36% di Tengah Ketidakpastian

Laporan terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, dunia perbankan kita masih bergerak dengan cukup solid. Intermediasi berjalan stabil, sementara profil risiko tetap terjaga dengan baik. Ini kabar yang menenangkan di tengah dinamika ekonomi yang kerap berubah.

Menurut Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, angka-angka di Oktober 2025 cukup menggambarkan hal itu. Pertumbuhan kredit tercatat mencapai 7,36 persen secara tahunan. Dalam nilai nominal, itu setara dengan Rp8.220,2 triliun.

Yang tak kalah penting, kualitas kreditnya sendiri ternyata masih terjaga. Rasio NPL gross ada di angka 2,25 persen, sementara NPL net lebih rendah lagi, yakni 0,90 persen. Indikator lain seperti Loan at Risk (LaR) pun relatif stabil, bahkan turun tipis dari bulan sebelumnya ke level 9,41 persen.

Namun begitu, bank-bank tampaknya tak mau lengah. Sebagai bentuk mitigasi, mereka terus membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai atau CKPN. Ini langkah antisipatif jika nantinya kondisi eksternal berubah dan berdampak pada kinerja debitur.

"Kami melihat bahwa pembentukan CKPN tersebut masih tergolong wajar dan perlu dilakukan sebagai langkah antisipatif dan bagian dari penerapan prinsip prudensial dalam rangka menjaga kualitas kredit,"

Demikian penjelasan Dian dalam jawaban tertulisnya yang diterima pada Sabtu, 20 Desember 2025 lalu.

Secara tren, pembentukan CKPN sebenarnya sudah menunjukkan penurunan di tingkat industri. Tapi jumlahnya dinilai masih memadai. Hal ini berjalan beriringan dengan membaiknya kualitas kredit, yang salah satunya terlihat dari tren LaR yang semakin menurun.

Pada akhirnya, peran perbankan sebagai ujung tombak intermediasi memang krusial. Mereka bukan sekadar agen ekonomi, tapi juga bagian dari pembangunan nasional. Dengan tata kelola yang baik, prinsip kehati-hatian, dan manajemen risiko yang solid, diharapkan kinerja keuangan industri ini bisa tetap terjaga tidak hanya untuk hari ini, tapi juga secara berkelanjutan ke depan.

(kunthi fahmar sandy)

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar