✍🏻 SHAUN KING (Aktivis muslim AS)
Sudah lebih dari dua tahun. Sejak Oktober 2023, genosida di Gaza berlangsung di depan mata kita semua. Kini, di tahun ketiga, muncul kengerian baru. Kali ini bukan dari ledakan bom, tapi dari secarik kertas kontrak senilai miliaran dolar yang baru saja ditandatangani.
Saya baru saja membaca dua laporan. Isinya bikin mual. Intinya sederhana: sementara Gaza berdarah-darah, negara-negara di sekitarnya tak cuma diam. Mereka sibuk berbisnis.
Kesepakatan Senjata yang Dirahasiakan
Ada laporan baru yang menjijikkan, tapi sayangnya, benar. Uni Emirat Arab disebut-sebut sebagai pembeli rahasia di balik "kesepakatan terbesar" dalam sejarah Elbit Systems. Nilainya fantastis: $2,3 miliar, dengan rencana pengiriman selama delapan tahun ke depan. Media mengutip Intelligence Online yang mengungkap identitas UEA itu.
Nah, Elbit ini bukan main-main. Mereka raksasa senjata Israel, salah satu penggerak utama kekerasan yang kita saksikan sejak 2023. Mereka tak cuma bikin "produk pertahanan" abstrak. Mereka merakit alat perang modern: drone, sistem penargetan, komunikasi medan tempur. Teknologi yang dirancang untuk membuat pembunuhan lebih efisien, lebih terukur. Dan seperti kebanyakan pedagang senjata, mereka paling diuntungkan saat dunia bergejolak. Lihat saja laporan keuangan mereka keuntungan rekor, pesanan menumpuk saat genosida berlangsung. Itu bukan kebetulan. Itu model bisnis mereka.
Setiap kontrak adalah sebuah suara. Keputusan sebuah pemerintah untuk terus menyuapi mesin yang telah mengubah Gaza jadi puing, lalu pura-pura bilang, "Ini cuma bisnis, kok."
Dan ini yang bikin hati miris: komponen kesepakatan itu dilaporkan dikenai larangan publikasi. Mereka sembunyikan.
Itu bukan detail sepele. Itu pengakuan.
Kalau sebuah kesepakatan senjata harus ditutup-tutupi dengan kerahasiaan hukum, artinya semua pihak tahu: ini jijik. Tapi mereka tetap jalan.
Ujian moralnya sebenarnya sederhana. Kalau Anda mengaku membela nyawa manusia, kalau Anda mengaku beriman, Anda tak seharusnya memberi makan mesin pembunuh itu.
Tapi nyatanya, UEA disebut-sebut menyodorkan $2,3 miliar, cair bertahap hampir sepuluh tahun, sementara korban jiwa di Gaza masih terus dihitung.
Lalu timbul pertanyaan paling pahit: apa artinya ketika pemimpin-pemimpin Muslim bisa menggelontorkan miliaran untuk industri senjata Israel, sementara keluarga di Gaza kesulitan dapatkan air bersih?
Pesta Gas di Tengah Kelaparan
Laporan kedua datang dari The New York Times, ditulis Ephrat Livni dan Johnatan Reiss pertengahan Desember 2025. Mereka melaporkan Benjamin Netanyahu menyetujui apa yang dia sebut "kesepakatan gas terbesar" dalam sejarah Israel senilai $37 miliar. Izin ekspor diberikan agar Chevron dan perusahaan lain bisa memperluas pengiriman gas ke Mesir, yang terkait ladang Leviathan milik Israel.
Netanyahu merayakannya. Katanya, ini akan memperkuat posisi Israel di kawasan dan menghasilkan pendapatan besar. Artikel itu menyebut angka sekitar $18 miliar dari pajak dan pendapatan lain untuk Israel.
Coba baca pelan-pelan: saat Gaza masuk tahun ketiga genosida, Israel justre mengamankan keuntungan regional yang luar biasa. Dan pemerintah negara tetangga Mesir ikut menandatangani perjanjian pipa gas itu.
Mesir bukan cuma "tetangga". Mereka yang mengendalikan akses ke Gaza. Mereka yang melihat mayat-mayat. Mereka yang menyaksikan kelaparan dan pengungsian. Mereka tahu, lebih dari siapa pun, apa yang terjadi di sana. Tapi, inilah kenyataannya: $37 miliar dalam bentuk gas.
Ini bukan kebetulan. Ini inti persoalannya.
Genosida tak cuma terjadi lewat bom. Ia juga berjalan lewat perlindungan diplomatik, normalisasi ekonomi, dan imbalan finansial. Genosida terjadi ketika kekerasan massal diperlakukan seperti backsound, sementara kontrak ditandatangani dan para pemimpin tersenyum di depan kamera.
“Negara-Negara Islam” yang Jauh dari Ajaran
Saya akan ungkapkan dengan hati-hati, tapi jelas.
Beberapa pemerintah ini gemar bicara bahasa Islam saat itu menguntungkan saat memberi legitimasi, membungkam kritik, atau memenuhi stadion. Tapi Islam bukan kostum. Islam adalah bimbingan. Dan bimbingannya jelas.
Allah memerintahkan kita untuk tidak bekerja sama dalam dosa dan agresi. Dalam Al-Qur'an, Surah Al-Ma'idah ayat 2, dikatakan, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” Nabi ﷺ juga mengajarkan kita untuk menolong saudara kita, baik yang tertindas maupun yang menindas dengan menghentikan si penindas.
Jadi, kalau pemerintah malah membantu kelanjutan penindasan lewat kesepakatan senjata, energi, atau normalisasi maka sebanyak apa pun pencitraan agama, tak akan bisa membersihkannya.
Ini bukan "pragmatisme". Ini keterlibatan.
Dan ya, pasti ada yang berkilah, "Ini kan cuma bisnis." Tapi begitulah cara kerja keruntuhan moral: kamu ganti nama kejahatan jadi bisnis, kamu sebut pengkhianatan sebagai stabilitas, kamu samarkan genosida dengan kata "kompleksitas". Lalu kamu terima ceknya, sementara anak-anak mati.
Kebenaran yang Tak Enak Diucapkan
Ketika orang bertanya, bagaimana Israel bisa terus melanjutkan genosida ini sejak 2023 dengan tingkat kehancuran yang kita saksikan jawabannya ada dua.
Pertama, yang sudah jelas: Israel dipersenjatai, didanai, dan dilindungi oleh Amerika Serikat serta sekutunya.
Kedua, yang mestinya bikin malu seluruh kawasan: Israel dinormalisasi dan diperkaya oleh negara-negara tetangganya sendiri, sementara Gaza masih hancur.
Kesepakatan senjata $2,3 miliar. Kesepakatan gas $37 miliar. Dan genosida terus berlanjut.
Itu bukan kecelakaan. Itu pilihan.
Kalau Anda Muslim dan membaca ini, anggap ini cermin. Kalau Anda bukan Muslim, pahami juga: pengkhianatan ini bukan cuma politis ia juga spiritual. Kesepakatan-kesepakatan ini adalah deklarasi terang-terangan bahwa uang dan kekuasaan dipilih di atas kewajiban kemanusiaan paling dasar.
Dan jika mereka yang mengaku Islam tak punya keberanian untuk berhenti menyuapi mesin yang dituduh melakukan genosida, maka kita semua harus bersuara lebih lantang lagi.
Artikel Terkait
BEM SI Tinjau Langsung Gudang Bulog, Stok Beras Nasional Capai Rekor 5,2 Juta Ton
Presiden Prabowo Terima Laporan Reformasi Polri, Instruksikan Perubahan Bertahap hingga 2029
Menag Nasaruddin Umar Tegaskan Zero Tolerance terhadap Kekerasan Seksual di Lingkungan Pendidikan Agama
118 BEM Nusantara Dialog Langsung dengan Mentan, Bahas Swasembada Pangan hingga Koperasi Desa