Untuk membuktikan klaimnya, Tito pun merinci sejumlah langkah yang telah diambil. Dia menyebut kunjungannya ke Pidie Jaya, Aceh pada 29 November 2025. Tak berhenti di situ, esok harinya (30/11) dia turun lagi ke Lhokseumawe menemui Gubernur Aceh Muzakir Manaf guna menyerahkan bantuan.
Koordinasi juga digalakkan. Dia mengaku telah berhubungan dengan para bupati, TNI, Polri, hingga BNPB dan Basarnas untuk menyusun langkah-langkah di Aceh. Bahkan, dia menyebut telah mengoordinasikan distribusi ratusan ton beras dari Bulog.
Namun begitu, poin utamanya tetap permintaan maaf dan penegasan bahwa bantuan Malaysia tidak direndahkan. “Jadi saya tidak bermaksud mengecilkan, sekali lagi, saya tidak bermaksud mengecilkan dukungan saudara-saudara kita yang dari Malaysia,” tuturnya.
Dia lalu menekankan hubungan historis dan kekerabatan yang erat dengan Malaysia. “Apalagi Malaysia memiliki hubungan panjang, saudara kita serumpun dan saya tahu. Saya sangat menghormati warga Malaysia, hubungan dengan pemerintah Malaysia dengan senior-senior di Malaysia, saudara-saudara kita diaspora di Malaysia. Saya sangat menghormati itu,” papar Tito panjang lebar.
Sebelumnya, komentar Tito memang memantik kritik. Dia menyebut bantuan obat-obatan dari Malaysia untuk korban bencana Sumatra “tidak seberapa besar”, dengan nilai sekitar Rp1 miliar. Pernyataan itulah yang kemudian memicu gelombang reaksi dari berbagai pihak.
Artikel Terkait
BNPB Wanti-wanti: 2027 Jadi Tahun Kritis Siklus Karhutla
AHY Ungkap Makna Lebih Dalam di Balik Program Gentengisasi Prabowo
Suite Class KAI Meledak: Penumpang Naik Hampir 90% dalam Dua Tahun
Slowakia Tawarkan Paket Lengkap untuk PLTN Pertama Indonesia