Di sisi lain, minat terhadap teknologi ini meledak belakangan ini. Salah satu pemicunya adalah lonjakan permintaan energi global, yang sebagian didorong oleh maraknya pusat data untuk kecerdasan buatan. Tak heran jika raksasa seperti Google, yang punya chatbot Gemini, juga tercatat sebagai investor di TAE Technologies.
Struktur kepemimpinan perusahaan gabungan ini pun sudah ditetapkan. Devin Nunes, yang saat ini menjabat sebagai CEO TMTG, akan berbagi peran co-CEO dengan Michl Binderbauer, pimpinan TAE.
"Kami berkomitmen untuk mewujudkan energi bersih masa depan," ujar Binderbauer dalam pernyataannya.
Proses merger ditargetkan selesai pertengahan 2025. Ambisi mereka jelas: memulai pembangunan pembangkit listrik tenaga fusi skala utilitas pertama di dunia pada tahun 2026. Sebuah target yang sangat agresif, tentu saja. Semua mata kini tertuju, apakah langkah tak terduga ini akan membawa terang secara harfiah bagi masa depan energi.
Artikel Terkait
Ivan Kolev Kritik Maraknya Naturalisasi di Timnas Indonesia
Prabowo Tegaskan Perjanjian Dagang dengan AS Tak Korbankan Kepentingan Nasional
Prabowo Andalkan Program Padat Karya untuk Pacu Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Prabowo Tegaskan Tak Akan Korbankan Kepentingan Nasional dalam Perjanjian Dagang dengan AS