Fadli Zon Luncurkan Buku Sejarah Kontroversial, PDIP Desak Dihentikan

- Minggu, 14 Desember 2025 | 16:45 WIB
Fadli Zon Luncurkan Buku Sejarah Kontroversial, PDIP Desak Dihentikan

Di gedung Kementerian Kebudayaan, Jakarta Selatan, suasana Minggu siang itu tampak berbeda. Fadli Zon, sang Menteri Kebudayaan, berdiri di depan para undangan untuk meresmikan sebuah buku tebal. Judulnya cukup menggugah: "Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Zaman." Buku ini bukan karya biasa, melainkan hasil proyek penulisan ulang sejarah yang digarap serius.

Dalam sambutannya, Fadli dengan lugas mengakui satu hal yang mengejutkan. "Saya sendiri sebenarnya belum sempat membaca buku ini sampai tuntas," ujarnya. Namun, dia menekankan bahwa karya ini lahir dari tangan para ahli.

"Ini ditulis oleh sejarawan se-Indonesia. Tadi disebutkan, ada 123 penulis dari 34 perguruan tinggi. Untuk itu, terima kasih yang sebesar-besarnya," kata Fadli.

Bagi dia, proyek semacam ini adalah tugas pokok dari kementerian yang dipimpinnya. Sebuah bentuk fasilitas bagi para peneliti dan penulis sejarah. "Pertanyaannya sederhana," lanjut Fadli, suaranya terdengar tegas. "Kalau sejarawan tidak menulis sejarah, lantas bagaimana kita merawat memori kolektif bangsa kita?"

Namun begitu, jalan proyek ini ternyata tak mulus. Direktorat Sejarah di Kemenbud sendiri sempat vakum sebelum era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Fadli mengaku memperjuangkan keberadaan direktorat itu. "Fungsinya ya untuk memfasilitasi. Kalau tugasnya tidak dilakukan, ya lebih baik tidak usah ada," ucapnya blak-blakan.

Acara peluncuran berlangsung simbolis. Fadli, didampingi Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifuddian dan beberapa penulis, menempelkan puzzle berbentuk peta Indonesia. Gestur itu ingin menunjukkan penyatuan narasi. Tapi di luar ruangan yang khidmat, proyek ini justru memantik badai polemik.

Di sisi lain, PDI Perjuangan bersikap keras. Mereka mendesak pemerintah, khususnya Kemenbud di bawah Fadli Zon, untuk menghentikan proyek penulisan ulang sejarah ini. Alasannya, proyek dinilai telah melukai banyak perasaan.

Permintaan itu disampaikan Wakil Ketua Komisi X DPR dari Fraksi PDIP, My Esti Wijayati, di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung. "Kami minta dengan tegas agar dihentikan. Sudah menimbulkan polemik dan melukai banyak orang," tegasnya pada suatu Senin di akhir Juni 2025.

My Esti tak menampik bahwa salah satu pemicu sikap keras partainya adalah pernyataan kontroversial Fadli Zon sendiri, terutama terkait peristiwa tahun 1998. Polemik itu, menurutnya, diperparah dengan mundurnya sejumlah sejarawan dari tim penulis.

"Banyak sejarawan yang keluar, menyatakan mundur. Itu artinya apa? Artinya di dalamnya ada banyak persoalan yang tidak sederhana," ujarnya, menyiratkan keretakan dari dalam.

Jadi, di balik peluncuran buku yang tampak megah itu, tersimpan dua cerita yang bertolak belakang. Satu sisi melihatnya sebagai upaya merawat ingatan bangsa. Di sisi lain, proyek ini justru dianggap mengoyak luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar