“Yang paling dikhawatirkan adalah kalau air rob-nya naik, air hujan kiriman dari atas, airnya enggak bisa turun ke laut,” sambungnya, menggambarkan skenario terburuk dimana dua sumber air bertemu dan sistem pengeringan tak lagi memadai.
Namun begitu, ada sedikit angin lega dari dirinya. Menurut Pramono, momen paling kritis sebenarnya sudah lewat. “Cuaca ekstrem yang paling saya takutkan sudah lewat, ketika rob pasang full moon,” ucapnya.
Dia mengingatkan kembali pada kejadian rob beberapa waktu lalu. Saat itu, banyak yang menduga Jakarta akan tenggelam akibat naiknya air rob ditambah rembesan. Tapi, dengan infrastruktur yang ada, mereka berhasil melewatinya. Pertanyaannya sekarang: apakah 1.200 pompa itu cukup untuk menghadapi puncak musim hujan yang sebentar lagi tiba? Waktu yang akan menjawab.
Artikel Terkait
Eliano Reijnders Siap Gempur Persis Solo, Peringatkan Bahaya Kejutan di Manahan
China Eksekusi 11 Pelaku Sindikat Penipuan Online Bermarkas di Myanmar
Hujan Deras Guyur Jakarta, 52 RT dan 17 Ruas Jalan Terendam Banjir
Doktif Minta KY Awasi Sidang Praperadilan Richard Lee