Barsena lalu bercerita. Ia membandingkan kemewahan yang ada di depan matanya dengan keprihatinan di lokasi bencana. "Saya melihat di sini banyak teman-teman cantik-cantik bajunya, ganteng-ganteng. Tapi di sana, mereka mengenakan pakaian yang sama, yaitu baju coklat karena lumpur dan banjir," tuturnya. Ajakan untuk berempati itu terasa begitu natural, bukan sekadar pesan yang dipaksakan.
Lagu "Ruang Baru" yang dikenal sebagai soundtrack film "My Annoying Brother" pun ia dedikasikan secara khusus. Lagu tentang keikhlasan dan harapan itu, katanya, akan ia nyanyikan sebagai sebuah doa.
"Saya menyisipkan doa di lagu ini, lagu Ruang Baru. Kalau misalnya teman-teman ingin ikut berdoa, boleh dengan kita bernyanyi bersama," ajaknya lagi.
Dan benar saja. Saat musik mengalun, nuansanya berbeda. Gesekan biola orkestra Erwin Gutawa terdengar lebih dalam, lebih menghanyutkan. Setiap lirik yang keluar dari mulut Barsena terasa seperti permohonan. Ia berhasil, tanpa terkesan menggurui, mengubah panggung konser yang glamor menjadi sebuah ruang doa kolektif. Penonton yang tadinya berdecak kagum, kini banyak yang terdiam, ikut merenung, atau menyanyi pelan dengan mata berkaca-kaca.
Malam itu, Symphonesia tidak hanya tentang musik. Lebih dari itu, ia tentang manusia dan empati yang dihidupkan di antara not-not lagu.
Artikel Terkait
Boiyen Ajukan Cerai, Pernikahan Baru Tiga Bulan Berantakan
Onadio Leonardo Akhirnya Bebas, Ungkap Perjuangan Tiga Bulan di Rehabilitasi
Wamenpar: Indonesia Harus Jadi Produsen, Bukan Pasar, Pariwisata Halal Global
Pemerintah Dorong Hunian Murah di Dekat Pabrik untuk Ringankan Beban Buruh