Musim hujan datang, tapi operasional kereta cepat Whoosh tak boleh terganggu. Untuk itu, KCIC punya cara jitu. Mereka memasang dua belas sensor curah hujan yang membentang dari Halim hingga Karawang. Tujuannya jelas: memastikan keselamatan tetap jadi prioritas nomor satu saat hujan mengguyur.
Menurut Eva Chairunisa, General Manager Corporate Secretary KCIC, sensor-sensor ini bekerja tanpa henti. Mereka mengukur debit hujan per jam dan mengirim datanya secara real-time ke pusat kendali operasi.
Begitu alarm berbunyi, protokol keselamatan langsung berjalan. Saat intensitas hujan menyentuh angka 25 mm per jam, petugas di pusat kendali akan meningkatkan kewaspadaan. Mereka memantau lintasan dengan lebih ketat. Namun begitu hujan makin deras dan mencapai sekitar 60 mm per jam, sistem otomatis bekerja. Kecepatan kereta dibatasi hingga 120 km/jam.
Nah, kalau hujan benar-benar lebat dan debitnya tembus 80 mm per jam? Pembatasan jadi lebih ketat lagi. Whoosh akan melaju pelan, maksimal 45 km/jam. Semua ini demi antisipasi, mengingat hujan deras bisa mengurangi jarak pandang masinis atau bahkan membawa material asing ke rel.
Artikel Terkait
Pemudik Rela Begadang Demi Tiket Kereta, Stasiun Jakarta Dipadati 54 Ribu Penumpang
Lonjakan 50% Pemudik di Terminal Kampung Rambutan, Terminal Lain di Jakarta Justru Sepi
Pemerintah Finalisasi Formasi dan Skema Rekrutmen ASN 2026
Pemerintah Kaji Formasi ASN 2026 dengan Mempertimbangkan Kemampuan Fiskal