Mekanisme kerjanya cukup cerdas. Semua data sensor terhubung ke sistem Centralized Traffic Control (CTC). Jadi, begitu satu sensor mengeluarkan alarm, pembatasan kecepatan langsung berlaku di sektor antara sensor itu dan sensor terdekat berikutnya, di kedua arah jalur. Ini memastikan respons yang cepat dan tepat lokasi.
Lalu, kapan kecepatan bisa kembali normal? Tidak serta merta. Hujan harus reda dulu, dan debitnya turun ke sekitar 20 mm per jam atau lebih rendah untuk beberapa waktu. Itu pun belum cukup. Petugas prasarana wajib turun ke lapangan, memeriksa kondisi lintasan secara langsung. Setelah dipastikan aman, dan sistem mengeluarkan notifikasi 'clear', barulah kecepatan bisa dinaikkan bertahap.
Pada intinya, seluruh rangkaian teknologi ini sensor, alarm, CTC, dan ATP bekerja sebagai satu tim. Mereka saling melengkapi untuk mengawasi setiap perubahan cuaca.
Jadi, meski langit kelabu dan hujan turun, perjalanan dengan Whoosh diharapkan tetap lancar dan, yang paling penting, selamat sampai tujuan.
Artikel Terkait
Pemudik Rela Begadang Demi Tiket Kereta, Stasiun Jakarta Dipadati 54 Ribu Penumpang
Lonjakan 50% Pemudik di Terminal Kampung Rambutan, Terminal Lain di Jakarta Justru Sepi
Pemerintah Finalisasi Formasi dan Skema Rekrutmen ASN 2026
Pemerintah Kaji Formasi ASN 2026 dengan Mempertimbangkan Kemampuan Fiskal