Kiai Cholil Nafis Bela Pandji: Kritik Jenawanya Itu Seperti Dakwah

- Minggu, 11 Januari 2026 | 11:00 WIB
Kiai Cholil Nafis Bela Pandji: Kritik Jenawanya Itu Seperti Dakwah
Dukungan Kiai Cholil untuk Pandji Pragiwaksono

Belakangan ini, komika Pandji Pragiwaksono ramai jadi perbincangan. Ia didatangi aksi demo yang mengatasnamakan dua ormas besar, NU dan Muhammadiyah. Uniknya, kedua organisasi itu dengan tegas membantah terlibat. Yang bikin publik makin bertanya-tanya, laporan dari pihak pendemo ke polisi ditindaklanjuti dengan cepat sekali. Gercep, kata orang sekarang.

Di tengah situasi itu, muncul dukungan mengejutkan. KH Cholil Nafis, yang nantinya akan menjabat Wakil Ketua Umum MUI periode 2025-2030, angkat bicara. Lewat akun X-nya, @cholilnafis, pada Ahad (11/1/2026), kiai itu menyatakan supportnya untuk Pandji.

“Saya pribadi senang menyimak kalam dan narasi Pandji Pragiwaksono yang inspiratif dengan kritik-kritik-nya yang jenaka tapi menusuk,” tulisnya.

Menurut Cholil, suara Pandji jangan dibungkam. “Kami butuh itu,” tegasnya. Ia bahkan melihat kritik ala Pandji itu punya nilai tersendiri. “Menurut saya itu tak beda dengan dakwah dalam ajakan muhasabah diri agar bangsa ini tetap sehat.”

Pesan penutupnya singkat dan jelas: “Mas Pandji lanjutkan aja ya.”

Dukungan sang kiai langsung disambut hangat di jagat maya. Banyak netizen yang berterima kasih dan menyemangati. Salah satunya, akun @potradjaya1 yang diduga milik Pandji sendiri, membalas, “Terima kasih atas dukungan nya, pak kyai.”

Ada juga yang sekadar menulis “Gas..kyai,” sementara yang lain berkomentar lebih panjang. Mereka membandingkan pejabat yang kerap ‘ngelawak’ tapi malah marah ketika pelawak sungguhan memberi nasihat. “Emang pada Sakit nih Pejabat,” tulis salah satu warganet.

Dukungan publik figur seperti KH Cholil Nafis ini tentu memberi warna baru. Di satu sisi, ia menunjukkan bahwa kritik yang disampaikan dengan cara jenaka punya tempat. Di sisi lain, ini juga jadi semacam tamparan halus bagi mereka yang ingin membungkam suara berbeda dengan cara-cara yang dipertanyakan. Bagaimanapun, peristiwa ini mengingatkan kita: di ruang publik yang sehat, setiap suara berhak didengar, asal disampaikan dengan cara yang baik.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar