Namun begitu, di tengah kepedihan, ada secercah terang. Bantuan tanggap bencana dari pemerintah dan berbagai pihak dinilainya datang dengan cepat. Bahkan, sehari setelah musibah, pasokan sembako sudah tiba.
“Bantuan seperti beras, pakaian, semua ada. Makan tinggal ambil,” katanya.
Tapi bantuan itu, sebesar apa pun, sifatnya sementara. Harapan Yuni sebenarnya sederhana, namun terasa sangat berat di tengah puing-puing yang masih berserakan. Ia ingin segera membangun kembali tempat tinggalnya. Sebuah fondasi untuk memulai hidup dari nol.
“Ya, permintaannya itu cepat perbaiki rumah. Biar bisa kami berusaha lagi,” harapnya.
Tanah dan atap untuk berlindung. Itulah modal utama yang ia impikan sekarang. Bukan hanya untuk dirinya dan keluarga, tapi juga untuk lima belas kepala yang selama ini ia anggap sebagai tanggung jawabnya.
Artikel Terkait
Trump Umumkan Pilihan Ketua Fed Pagi Ini, Siapa yang Akan Gantikan Powell?
Banjir Bekasi Belum Surut, 38 Ribu Warga Terdampak
OCBC NISP Cetak Laba Rp5,1 Triliun di Tengah Laju Transaksi Digital yang Melonjak 46%
Guardians of Legacy Sambut Imlek 2026 di Lorong Kwai Chai Hong