Namun begitu, di tengah kepedihan, ada secercah terang. Bantuan tanggap bencana dari pemerintah dan berbagai pihak dinilainya datang dengan cepat. Bahkan, sehari setelah musibah, pasokan sembako sudah tiba.
“Bantuan seperti beras, pakaian, semua ada. Makan tinggal ambil,” katanya.
Tapi bantuan itu, sebesar apa pun, sifatnya sementara. Harapan Yuni sebenarnya sederhana, namun terasa sangat berat di tengah puing-puing yang masih berserakan. Ia ingin segera membangun kembali tempat tinggalnya. Sebuah fondasi untuk memulai hidup dari nol.
“Ya, permintaannya itu cepat perbaiki rumah. Biar bisa kami berusaha lagi,” harapnya.
Tanah dan atap untuk berlindung. Itulah modal utama yang ia impikan sekarang. Bukan hanya untuk dirinya dan keluarga, tapi juga untuk lima belas kepala yang selama ini ia anggap sebagai tanggung jawabnya.
Artikel Terkait
KPK Alihkan Status Tahanan Mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas ke Rumah
Menteri Luar Negeri Iran Ucapkan Idulfitri dan Apresiasi Dukungan Indonesia, Malaysia, Brunei
Spalletti Geram, Juventus Gagal Penalti Lagi dan Cuma Raih Satu Poin Lawan Sassuolo
Bupati Bone Imbau Warga Alihkan Tabungan ke Emas Antisipasi Inflasi