Di tengah hiruk-pikuk pasar modal yang sempat gempar, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto angkat bicara. Ia meyakinkan publik bahwa keputusan pemerintah menaikkan porsi free float saham dari 7,5% menjadi 15% tidak akan serta-merta membuat pasar sepi. Justru sebaliknya.
“Tidak, jadi kita sudah lihat bahwa berapa kebutuhan investor kalau free float naik kan sebetulnya investasi akan masuk, likuiditas meningkat,”
Ucap Airlangga di Kantor Danantara Indonesia, Jumat lalu. Menurutnya, langkah ini sudah dipikirkan matang-matang, disesuaikan dengan selera dan kebutuhan para investor. Harapannya jelas: likuiditas pasar membaik dan Indonesia kian mendekati standar yang berlaku secara global.
Lalu, apa yang memicu kebijakan ini? Rupanya, ini adalah respons langsung atas tekanan pasar. Pemicu utamanya adalah perubahan metodologi penilaian dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap Indonesia. Perubahan itu sempat membuat IHSG anjlok hampir 8 persen di pertengahan pekan.
Nah, kalau dibandingkan dengan negara lain, posisi kita memang tertinggal. Airlangga menyebutkan, free float saham di Thailand sudah mencapai 15 persen. Singapura dan Filipina ada di angka 10 persen, bahkan Inggris pun sama. Indonesia? Selama ini lebih rendah dari itu semua.
“Jadi kita ambil angka yang relatif lebih terbuka dengan tata kelola yang lebih baik,”
tambahnya. Angka 15 persen itu dipilih sebagai bentuk keterbukaan, sekaligus upaya perbaikan tata kelola.
Targetnya, aturan baru ini mulai berlaku pada Maret mendatang. Pemerintah berharap stabilitas perdagangan saham bisa terjaga. Di sisi lain, daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor global diharapkan semakin menguat. Semua itu bertujuan meredam dampak tekanan yang sempat membuat pasar bergetar hebat beberapa waktu lalu.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020