Banjir Bekasi Belum Surut, 38 Ribu Warga Terdampak

- Jumat, 30 Januari 2026 | 13:45 WIB
Banjir Bekasi Belum Surut, 38 Ribu Warga Terdampak

Kabupaten Bekasi masih berjuang melawan genangan air. Hingga Jumat (30/1), banjir yang melanda sejak beberapa hari lalu belum juga menunjukkan tanda-tanda surut secara signifikan. Menurut data terbaru dari BPBD setempat, dampaknya cukup serius: hampir 38 ribu warga harus merasakan langsung akibatnya.

Penyebarannya luas. Catatan resmi menyebutkan 41 desa di 13 kecamatan kini terendam. Dari ribuan warga yang terdampak itu, lebih dari enam ribu orang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Mereka kini mengungsi di 21 titik yang telah disiapkan pemerintah daerah.

Lantas, apa pemicunya? Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dody Supriyadi, menjelaskan bahwa hujan dengan intensitas tinggi dalam beberapa hari berturut-turut menjadi biang keladinya. Curah hujan yang deras itu akhirnya memicu luapan sungai dan genangan yang merayap masuk ke kawasan permukiman.

“Sebaran banjir cukup luas, dengan tinggi muka air bervariasi mulai dari sekitar 10 sentimeter sampai satu meter di beberapa wilayah,” ujar Dody, Jumat lalu.

Kalau dilihat per wilayah, kondisinya memang beragam. Di Kecamatan Babelan, contohnya, desa-desa seperti Bunibakti dan Muara Bakti terendam air setinggi 10 hingga 100 cm. Sementara di Tarumajaya, genangan di Desa Segarajaya dan Samudra Jaya dilaporkan bisa mencapai 70 cm.

Yang cukup parah terjadi di Tambun Utara. Beberapa desa di sana, termasuk Sriamur dan Karangsatria, dikepung air dengan ketinggian yang dalam beberapa titik mencapai 120 sentimeter. Wilayah lain seperti Sukakarya, Pebayuran, hingga Cikarang Timur juga tak luput. Di sana, ketinggian air berkisar antara 20 sampai 100 cm.

Mengingat banjir belum reda, upaya penanganan fokus pada pengungsian. Ke-21 lokasi pengungsian yang tersebar di enam kecamatan itu memanfaatkan berbagai fasilitas. Mulai dari masjid dan musala, sekolah, kantor desa, sampai tenda darurat didirikan untuk menampung warga.

Kecamatan Babelan menjadi wilayah dengan titik pengungsian terbanyak. Warga mengungsi di sejumlah tempat seperti Masjid Al-Hidayah, Masjid Jami, dan beberapa posko RW. Secara keseluruhan, pengungsi berasal dari 15 desa yang dianggap paling parah terdampak.

Namun begitu, masalahnya tak cuma sampai di rumah warga. Sektor pertanian pun ikut menjadi korban. Data BPBD mencatat sekitar 5.301 hektare lahan pertanian terendam. Ini tentu mengkhawatirkan karena berpotensi mengganggu produksi pangan masyarakat ke depannya.

Di lapangan, upaya penanganan terus digelar. Dody menegaskan bahwa BPBD bersama unsur terkait seperti TNI, Polri, dan relawan masih bergerak.

“BPBD bersama TNI, Polri, relawan, dan pemerintah desa terus melakukan pemantauan, evakuasi, serta pendampingan kepada warga terdampak. Koordinasi lintas sektor dilakukan agar penanganan berjalan optimal,” kata Dody.

Mereka melakukan asesmen, evakuasi, sekaligus mendistribusikan bantuan logistik untuk meringankan beban warga. Menunggu air surut, sambil berharap hujan tak lagi mengguyur dengan keras.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler