WASHINGTON Pemerintahan Trump mengambil langkah kontroversial. Mereka memutuskan untuk mengganti Afrika Selatan dengan Polandia dalam KTT G20 tahun depan yang akan diadakan di Florida. Keputusan ini ditegaskan langsung oleh Presiden Donald Trump, yang menyatakan negaranya tak akan lagi mengundang Afrika Selatan ke forum tersebut.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, memberikan penjelasan. Menurutnya, Washington melihat Polandia sebagai anggota yang lebih cocok untuk G20. “Polandia punya cerita yang menarik. Dulu mereka berada di balik Tirai Besi, tapi sekarang ekonominya termasuk dalam 20 besar dunia,” ujar Rubio.
“Kami yakin Polandia akan bergabung dan memainkan peran yang semestinya di G20,” tambahnya dalam pernyataan khusus untuk KTT 2026 itu.
Di sisi lain, Rubio dengan tegas mengulangi alasan penggantian ini. Pemerintah AS menuduh Afrika Selatan melakukan praktik rasisme dan membiarkan kekerasan terhadap warga kulit putih di negaranya.
Narasi ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak sebulan lalu, Trump sudah menyuarakannya, bahkan menyebut situasi di sana sebagai ‘genosida’ terhadap warga Afrikaner. Klaim pedas itu langsung memicu penolakan. Baik pemerintah Afrika Selatan maupun sejumlah pakar HAM internasional membantahnya habis-habisan. Mereka menegaskan, tidak ada bukti yang mendukung tuduhan genosida tersebut.
Namun begitu, Trump tampaknya tak bergeming. Narasi itu terus dipakai, bahkan menjadi tekanan saat pertemuan dengan Presiden Cyril Ramaphosa di Gedung Putih beberapa waktu lalu.
“Pemerintah Afrika Selatan menolak untuk mengakui atau menangani pelanggaran HAM yang mengerikan, dialami oleh warga Afrikaner, dan keturunan pemukim Belanda, Prancis, dan Jerman,” kata Trump.
Ada lagi soal yang memicu ketegangan. Trump menyinggung penolakan Presiden Ramaphosa untuk menyerahkan palu sidang KTT G20 kepada perwakilan misi diplomatik AS di Johannesburg. Bagi pemerintah Afrika Selatan, menyerahkan simbol kepemimpinan forum di tingkat kedutaan dinilai sebagai penghinaan. Alhasil, proses serah-terima palu sidang akhirnya dilakukan di tempat lain, secara tertutup.
Dengan latar belakang rumit ini, jadwal pertemuan G20 pun mulai bergulir. Pertemuan awal para sherpa dan jalur keuangan rencananya digelar di Washington DC pertengahan Desember ini. Sementara rangkaian pertemuan lain akan menyusul sepanjang tahun 2026.
Artikel Terkait
Perusahaan China Incar Peluang Besar di Balik Target PLTS 100 GW Indonesia, Soroti Kebutuhan Teknologi Penyimpanan Energi
Presiden Prabowo Resmikan RSUD Lampung Barat dan Buka Munas Hipmi 2026 di Lampung
Investor China dan Hong Kong Dilarang Ikut IPO SpaceX, Alihkan Buruan ke Saham Terkait
Ekonom: RI Tak Akan Ulangi Krisis 1998, Tantangan Kini Bergeser ke Daya Beli Kelas Menengah