“Ada satu titik yang kemudian masih kita dalami karena kemungkinan bahan nuklir ini berada di bawah pondasi bangunan,” kata Hanif.
Ini situasi yang pelik. Pemerintah terpaksa mempertimbangkan opsi terberat: merobohkan bangunan tersebut jika dekontaminasi dari permukaan dirasa mustahil. Keputusan akhir, tentu saja, masih menunggu hasil kajian teknis yang lebih mendalam.
“Sepertinya kita mau tidak mau harus mengganti rumah tersebut untuk kita robohkan kalau memang Cesium berada di pondasi bangunan yang tidak bisa kita lakukan dekontaminasi,” jelasnya.
Di sisi lain, Hanif menekankan bahwa penanganan insiden semacam ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati. KLHK pun sudah mengajak BRIN untuk bersiap, menggariskan langkah-langkah teknis lanjutan guna menetralisir material berbahaya itu secara permanen. Semuanya butuh ketelitian ekstra, mengingat risiko yang dihadapi.
Artikel Terkait
Ditantara Siasati Badai Geopolitik demi Jaga Minat Investor
Idzes Tangguh di Tengah Kekalahan Sassuolo dari Napoli
Menkeu Purbaya Kencangkan Aturan Investasi Dana Pensiun ASN dan TNI-Polri
BRIN Gagas Forum Nasional untuk Satukan Riset dan Kebijakan