Lantas, dengan negara mana saja kita untung? Data BPS menunjukkan Amerika Serikat masih menjadi partner dagang yang menguntungkan, dengan surplus mencapai USD14,93 miliar. Posisi berikutnya diisi India (USD11,29 miliar) dan Filipina (USD7,18 miliar).
Namun begitu, tidak semua hubungan dagang berjalan mulus. Defisit terbesar, seperti yang bisa ditebak, terjadi dengan China mencapai USD16,32 miliar. Dua negara lain yang juga membuat neraca kita merah adalah Australia (USD4,58 miliar) dan Singapura (USD4,17 miliar).
Fokus pada kelompok nonmigas saja, pola serupa terlihat. Amerika masih di puncak penyumbang surplus (USD17,40 miliar), disusul India dan Filipina. Sementara itu, China kembali menjadi penyumbang defisit terdalam untuk kelompok ini (USD17,74 miliar), diikuti Australia dan Brazil.
Jadi, meski ada titik-titik tekanan dari beberapa negara, performa perdagangan Indonesia secara keseluruhan masih solid. Tren surplus yang beruntun selama lebih dari lima tahun ini setidaknya memberi napas lega di tengah ketidakpastian global.
Artikel Terkait
Pabrik BYD Subang Siap Beroperasi, Target Produksi Kuartal I 2026
Balikpapan Berkisah: Dari Sumur Mathilda hingga Dapur Energi Masa Depan
Duel Falcao vs Ricardinho Siap Panaskan Jakarta di X Series 2
Danantara Incar Industri Tekstil, Utamakan Penciptaan Lapangan Kerja