Al Gore dan Gelombang Baru: Ketika Isu Iklim Menemukan Narator Global

- Rabu, 26 November 2025 | 18:25 WIB
Al Gore dan Gelombang Baru: Ketika Isu Iklim Menemukan Narator Global

Jejak Awal Kerja Sama Global Melawan Pemanasan Bumi

(New Left dan Transformasi Tata Kelola Iklim: Dari Mobilisasi Masyarakat Sipil Menuju Kooperasi Multilateral)

Penulis: Saleh Hidayat,

anggota "Diskusi Reboan" yang difasilitasi Indonesian Democracy Monitoring, InDemo – Jakarta

Kesadaran global tentang pemanasan bumi tak muncul begitu saja. Ia lahir dari pergulatan panjang antara sains, politik dunia, dan tokoh-tokoh yang jadi katalis perubahan. Salah satu sosok yang paling mencolok dalam fase awal ini adalah Al Gore. Sebagai Wakil Presiden Amerika Serikat periode 1993–2001, ia berhasil mendorong isu perubahan iklim ke panggung utama diplomasi global lewat advokasi ilmiah dan kampanye publik yang masif.

Buku Gore Earth in the Balance (1992) sudah menegaskan bahwa pemanasan global adalah ancaman eksistensial. Namun, dampak yang lebih luas justru datang lewat film dokumenter An Inconvenient Truth (2006). Film ini menyebarkan kesadaran publik dengan cara yang dramatis nyaris seperti ledakan.

Film tersebut disutradarai Davis Guggenheim, dengan Al Gore sendiri sebagai narator dan penulisnya. Intinya adalah presentasi slide show yang sudah dibawakan Gore ribuan kali di berbagai belahan dunia. Di dalamnya, ada data ilmiah, grafik, dan foto yang menunjukkan bukti-bukti nyata pemanasan global.

Beberapa kasus yang ditampilkan cukup mengena: gletser di Gunung Kilimanjaro yang menyusut drastis, es yang mencair di Patagonia, meningkatnya intensitas badai seperti Hurricane Katrina (2005), serta pencairan besar-besaran di Kutub Utara dan Greenland yang mengancam kenaikan permukaan laut.

Tapi film ini bukan cuma kumpulan data. Ada narasi personal Gore tentang perjalanannya memperjuangkan isu iklim. Ia menekankan bahwa perubahan iklim bukan sekadar soal lingkungan, melainkan ancaman bagi kehidupan manusia, ekonomi, dan stabilitas global.

Seperti yang pernah Gore tulis dalam Earth in the Balance:

Kutipan itu jadi fondasi moral yang divisualisasikan lewat film dokumenternya. Bisa dibilang, An Inconvenient Truth bukan cuma film, tapi instrumen advokasi global yang menyodorkan fakta dari berbagai penjuru dunia.

Gore pun jadi simbol upaya membangun koalisi global. Nobel Committee menyorot hal ini saat memberinya penghargaan pada 2007 karena “membangun pengetahuan yang lebih besar tentang perubahan iklim buatan manusia.”

Namun begitu, kerja sama internasional sebenarnya sudah mulai tumbuh sebelum nama Gore mencuat. Di pertengahan 1980-an, jaringan ilmiah multilateral mulai menunjukkan bahwa dinamika iklim bukan lagi isu lokal, melainkan ancaman transnasional.

Laporan awal World Meteorological Organization (WMO) dan United Nations Environment Programme (UNEP) pada 1985 yang menghasilkan Villach Conference menjadi titik balik. Di sana, ilmuwan menyampaikan bahwa peningkatan gas rumah kaca bisa memicu konsekuensi global yang “potentially catastrophic.” Dari kesadaran ilmiah inilah kemudian lahir Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada 1988 platform multilateral pertama yang secara sistematis menilai sains perubahan iklim untuk kebijakan global.

Pasang surut kerja sama internasional kemudian terlihat jelas dalam perjalanan Conference of the Parties (COP) di bawah PBB. COP pertama di Berlin (1995) jadi langkah awal negosiasi formal, meski perdebatan sengit langsung muncul antara negara maju dan berkembang tentang tanggung jawab historis atas emisi.


Halaman:

Komentar

Tags