Perjalanan ini berawal dari kantor kami di kawasan Pasar Minggu, Jakarta. Misi kami sederhana tapi cukup menantang: bisakah Mitsubishi Destinator melaju sampai Yogyakarta hanya dengan satu tangki bensin berisi 45 liter?
Rencananya, kami akan menelusuri Tol Trans Jawa dan singgah di beberapa tempat. Sebagai SUV keluarga masa kini, Destinator ini dibekali paket keselamatan aktif bernama Diamond Sense. Teknologi ADAS-nya ibarat punya indra keenam. Bayangkan, ada sensor, radar, dan kamera yang terus memindai sekitar. Sistem ini bisa bantu jaga jarak aman dan kasih peringatan dini kalau ada risiko tabrakan.
Beberapa fiturnya, seperti Adaptive Cruise Control dan Lane Departure Warning, benar-benar bikin perjalanan jauh terasa lebih santai. Kami nggak perlu tegang terus-menerus.
Di sisi lain, yang juga bikin kami terkesan adalah pilihan 5 Mode Berkendara. Saat aspal kering, Tarmac Mode membuat pengendalian mobil terasa lebih asyik dan responsif. Tapi pengalaman paling berkesan justru terjadi di Semarang. Hujan deras tiba-tiba mengguyur. Untungnya, dengan beralih ke Wet Mode, mobil tetap terasa aman dan nyaman dikendalikan.
Mode berkendara di Destinator ini bukan sekadar gimmick. Sistemnya benar-benar mengatur performa mesin, respons throttle, hingga kerja kontrol traksi, ABS, dan Stability Control. Bahkan ada Active Yaw Control yang bikin mobil lebih stabil.
Ketika memilih mode Wet, Gravel, atau Mud, mobil akan lebih agresif mencegah roda selip dengan membatasi daya mesin. Sebaliknya, di Tarmac Mode, respons mesin dan kemudi dibuat lebih tajam untuk menikmati aspan kering.
Di balik kapnya, Destinator mengusung mesin 1.5L MIVEC Turbo (kode 4B40) yang cukup garang. Tenaganya mencapai 163 PS pada 5.000 rpm, dengan torsi puncak 250 Nm yang sudah tersedia sejak 2.500 rpm. Semua daya itu disalurkan melalui transmisi CVT.
Kombinasi ini menghasilkan performa yang responsif, cocok buat perjalanan jauh atau sekadar harian di kota.
Yang mengejutkan, konsumsi BBM-nya ternyata cukup irit. Berdasarkan pengukuran MID, di rute perkotaan kami catat angka 13,5 km/l. Sementara di tol Pasar Minggu sampai KM 130, angkanya bahkan mencapai 16,6 km/l.
Efisiensi ini didukung siklus Atkinson dan intercooler pendingin air yang menjaga suhu kerja mesin tetap optimal. Jadi, performa bagus tapi boros? Nggak selalu.
Setelah ratusan kilometer menjelajah dari Jakarta hingga pusat Jogja, akhirnya bar indikator bensin menunjukkan tanda bahaya. Saat itu kami sedang berhenti di jalan menanjak di daerah Kaliurang untuk bertanya pada warga setempat.
Dua anggota tim turun untuk memasang perangkat video di kap mobil.
Tiba-tiba, mesin mati.
Momen itu menandai akhir perjalanan 'satu tangki' kami. Total jarak yang berhasil kami tempuh: 604,5 km dengan 45 liter bensin. Rata-rata konsumsinya 13,4 km/l.
Capaian yang menurut kami cukup impresif, mengingat kami berkendara secara normal nggak neko-neko. Kecepatan wajar, AC tetap nyala buat kenyamanan semua penumpang.
Perjalanan ini membuktikan satu hal: efisiensi bahan bakar tidak harus mengorbankan performa atau kenyamanan. Destinator berhasil menunjukkan bahwa semuanya bisa berjalan beriringan.
Artikel Terkait
Roy Suryo Sindir Rismon Soal SP3: Zombie Itu Sudah Bikin Surat Kematian Palsu
Mentan: Swasembada Pangan Hanya Mungkin dengan Sinergi Pusat-Daerah
Remaja 14 Tahun Tembak Mati 9 Orang di Sekolah Turki, Profil WhatsApp Tampilkan Pelaku Penembakan AS
KPK Geledah Rumah Dinas Bupati Tulungagung, Dokumen Diduga Alat Pemerasan Disita