Kekhawatiran ini ternyata bukan cuma ada di pikiran Angela. Dia menceritakan percakapannya dengan seorang podcaster muda yang juga punya kegelisahan serupa.
Jadi, ini bukan perasaan para eksekutif media saja. Anak muda yang sehari-harinya hidup di dunia digital pun mulai merasakan hal yang sama.
Lalu, apa solusinya? Di tengah banjir informasi yang sulit dibendung, Angela menekankan peran krusial dari media yang berlisensi. Keberadaan mereka, meski kadang dipandang sebelah mata, justru menjadi penjaga gawang.
Poinnya jelas. Dalam keriuhan arus informasi, media berlisensi punya tanggung jawab hukum dan etika untuk memastikan yang disebarkan adalah fakta, bukan dusta. Itu menjadi benteng terakhir yang kita punya.
Artikel Terkait
CSIS Soroti Dampak Terbatas Perjanjian Dagang Indonesia-AS, Hanya 2% Ekspor Terfasilitasi
Kemenhaj: 162 Ribu Dokumen Haji Diproses, Target Selesai Awal Maret
DKI Jakarta Tambah 63 Sekolah Swasta Gratis, Mulai Juli 2026
Pakistan Lancarkan Serangan Udara ke Afghanistan, Menteri Pertahanan Sebut Perang Terbuka