Perempuan Penggerak Ekonomi: 37 Juta Ibu Rumah Tangga Tancap Gas Lewat UMKM

- Jumat, 21 November 2025 | 20:55 WIB
Perempuan Penggerak Ekonomi: 37 Juta Ibu Rumah Tangga Tancap Gas Lewat UMKM

Perempuan di Indonesia ternyata punya peran yang luar biasa dalam menggerakkan roda ekonomi. Bayangkan saja, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa 64,5 persen pelaku UMKM adalah perempuan. Angka itu setara dengan sekitar 37 juta orang! Mereka bukan hanya sekadar menjalankan usaha, tapi menjadi tulang punggung perekonomian keluarga.

Di sisi lain, Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Indonesia juga mengalami peningkatan menjadi 77,62 poin dari sebelumnya 76,90 poin. Ini kabar yang cukup menggembirakan, meskipun masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Nah, yang menarik adalah bagaimana peran kepemimpinan perempuan di tingkat akar rumput ternyata punya dampak yang signifikan. Ambil contoh program Mekaar yang dijalankan PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Di sini, ketua kelompok perempuan tidak cuma mengurusi administrasi saja. Mereka menjadi motor penggerak solidaritas sosial dan pendamping perkembangan usaha para anggota.

Melalui pelatihan "Mba Maya" dari PNM, para ketua kelompok ini dibekali kemampuan kepemimpinan, komunikasi, plus strategi tata kelola kelompok yang efektif. Hasilnya? Mereka jadi punya kapasitas untuk memotivasi anggota, memperkuat ikatan sosial, dan mendorong kemandirian dalam mengambil keputusan usaha.

Efeknya ternyata cukup nyata. Penelitian Fisipol UGM tahun 2022 mencatat bahwa 71,86 persen nasabah PNM mulai berkontribusi dalam pengambilan keputusan keluarga. Mulai dari urusan keuangan, pendidikan, sampai kebutuhan rumah tangga. Perubahan ini menunjukkan perkembangan kepemimpinan perempuan di tingkat komunitas yang cukup menggembirakan.

Proses pemberdayaan ini sejalan dengan kerangka teori Naila Kabeer (1999) tentang pemberdayaan perempuan. Menurut Kabeer, pemberdayaan adalah proses memperoleh kemampuan membuat pilihan strategis melalui tiga dimensi: sumber daya, agensi, dan pencapaian. Dalam konteks Mekaar, akses pembiayaan menjadi sumber daya, pelatihan leadership adalah agensi, sementara peningkatan kesejahteraan dan peran dalam keputusan rumah tangga menjadi pencapaiannya.

Menteri PANRB Rini Widyantini menegaskan pentingnya peran perempuan ini. "Perempuan saat ini memiliki peran yang sangat penting pada ketahanan ekonomi keluarga," ujarnya dalam rilis yang diunggah di laman PANRB, Sabtu (9/5/2025).

Dia menambahkan, "Dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang dibuat oleh perempuan di rumah, melalui literasi keuangan perempuan bukan sekadar bagian dari populasi, tetapi juga aktor utama dalam penguatan ekonomi keluarga."

Intinya, dengan memperkuat peran kepemimpinan perempuan dalam komunitas, pemberdayaan ekonomi tidak hanya sekadar menaikkan pendapatan. Lebih dari itu, terjadi perubahan sosial yang signifikan dimana perempuan semakin dipercaya, didengar, dan berdaya dalam mengambil keputusan penting.

Jika pendekatan seperti ini bisa diperluas dan diperkuat secara nasional, bukan tidak mungkin kepemimpinan perempuan akan menjadi motor penggerak dalam percepatan pengentasan kemiskinan. Tentu saja, dengan cara yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar