Kontroversi semakin memanas dengan munculnya perbandingan antara proyek kereta cepat Indonesia dengan proyek serupa di Arab Saudi. Yang menjadi sorotan adalah, meskipun jarak tempuh di Arab Saudi lebih jauh, biaya pembangunannya justru lebih murah jika dibandingkan dengan proyek Whoosh di Indonesia.
"Perdebatan makin panjang karena pendukung kereta cepat beralasan kondisi geografis berbeda. Di Arab Saudi jalannya datar dan gurun pasir, sementara di Indonesia harus membor gunung dan melewati jalur berkelok, wajar kalau biayanya lebih besar," jelas Adi mengenai perbedaan tantangan teknis tersebut.
Namun, faktor teknis itu dinilainya tidak serta-merta menutup kritik dari publik. Isu utama yang terus mengemuka adalah dugaan pembengkakan biaya, yang bahkan pernah disinggung oleh Prof. Mahfud MD. Diskursus mengenai efisiensi antara proyek di Indonesia dan negara lain pun terus bergulir hingga saat ini.
Pergantian Mitra dari Jepang ke Cina dan Pernyataan Pemerintah Prabowo
Langkah pemerintah yang awalnya berencana menggandeng Jepang, kemudian tiba-tiba beralih ke Cina untuk menggarap proyek ini, juga turut memicu polemik yang berkepanjangan.
Di sisi lain, Adi juga menyinggung pernyataan resmi dari Menteri Keuangan, Puraya Yudha Sadewa, yang menegaskan bahwa pemerintah di era Presiden Prabowo Subianto tidak berniat untuk membayar utang proyek Whoosh menggunakan dana APBN.
Ia menutup analisanya dengan sebuah refleksi, "Andai saja cerita tentang Whoosh tidak dibayangi utang, tentu proyek ini akan lebih diapresiasi. Sayangnya, kenyamanan dan kebanggaan nasional itu masih bergaransi dengan utang yang fantastis dan kisruh yang belum berkesudahan."
Artikel Terkait
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo
Rocky Gerung Soroti Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump: Harga Sebuah Buku dan Nyawa Anak di NTT
Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Desak Prabowo Tindak Tegas Erick Thohir