"Artinya, masyarakat dibiarkan terpolarisasi. Orang yang fanatik sama Pak Jokowi, dia akan terus mengingat Pak Jokowi dan mereka akan melakukan pembelaan," papar Nurul Fatta.
Karakter publik Indonesia, lanjutnya, memang cenderung mudah tersentuh secara emosional. Itu sebabnya isu-isu seperti ini punya daya tahan yang luar biasa lama di ruang publik. Sentimen itu tidak mudah menguap.
"Publik sebagian besar ini kan mudah tersentuh emosionalnya. Jadi publik yang emosionalnya kuat terhadap Pak Jokowi, dia akan membela," katanya menegaskan.
Dari sinilah dampak elektoralnya mulai terlihat. Selama isu ini tetap hidup, ingatan dan loyalitas emosional sekelompok masyarakat terhadap Jokowi akan terus terjaga. Loyalitas semacam ini, dalam politik, adalah aset berharga.
Pada akhirnya, kelompok masyarakat yang terikat secara emosional ini bisa menjadi basis dukungan yang solid untuk kontestasi politik di masa yang akan datang.
"Sehingga, kelompok masyarakat yang seperti ini masih bisa dijadikan ceruk suara dalam politik elektoral nanti," pungkas Nurul Fatta.
Artikel Terkait
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo
Rocky Gerung Soroti Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump: Harga Sebuah Buku dan Nyawa Anak di NTT
Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Desak Prabowo Tindak Tegas Erick Thohir