"Artinya, masyarakat dibiarkan terpolarisasi. Orang yang fanatik sama Pak Jokowi, dia akan terus mengingat Pak Jokowi dan mereka akan melakukan pembelaan," papar Nurul Fatta.
Karakter publik Indonesia, lanjutnya, memang cenderung mudah tersentuh secara emosional. Itu sebabnya isu-isu seperti ini punya daya tahan yang luar biasa lama di ruang publik. Sentimen itu tidak mudah menguap.
"Publik sebagian besar ini kan mudah tersentuh emosionalnya. Jadi publik yang emosionalnya kuat terhadap Pak Jokowi, dia akan membela," katanya menegaskan.
Dari sinilah dampak elektoralnya mulai terlihat. Selama isu ini tetap hidup, ingatan dan loyalitas emosional sekelompok masyarakat terhadap Jokowi akan terus terjaga. Loyalitas semacam ini, dalam politik, adalah aset berharga.
Pada akhirnya, kelompok masyarakat yang terikat secara emosional ini bisa menjadi basis dukungan yang solid untuk kontestasi politik di masa yang akan datang.
"Sehingga, kelompok masyarakat yang seperti ini masih bisa dijadikan ceruk suara dalam politik elektoral nanti," pungkas Nurul Fatta.
Artikel Terkait
Materai Rp100 di Ijazah Jokowi Disorot, Jubir PSI: Itu Hal Biasa
Pertemuan Rahasia di Solo: Eggi-Damai Diam-diam Bertemu Jokowi
Hensat Soroti Kontroversi Pandji: Ini Cuma Ekspresi Kekesalan, Bukan Gerakan Asing
PDIP Main Halus: Strategi Penyeimbang untuk Jaga Pintu Kekuasaan