“Banyak tokoh penting bilang ke saya beberapa bulan lalu, ‘Pak Bowo, nda mungkin swasembada Indonesia itu’. Sungguh ini ngomong ke saya, tidak mungkin swasembada,” tegasnya, menirukan suara para peragu itu.
Namun begitu, keraguan itu kini pupus. Di Karawang hari itu, ia secara resmi mengumumkan keberhasilan swasembada beras, diraih hanya dalam waktu satu tahun. Sebuah capaian yang, bagi banyak orang, memang terdengar seperti mimpi.
Tapi Prabowo tahu. Ia yakin, kritik dan nyinyiran tak serta merta berhenti. Justru akan berubah bentuk. "Sekarang setelah kita swasembada pangan, oh ya tapi paling swasembada pangannya paling setahun dua tahun," ujarnya, menyindir kemungkinan komentar selanjutnya.
Untuk menjawab semua itu, ia punya satu komitmen. Tak hanya beras, Indonesia akan membuktikan diri. Tahun demi tahun. "Kita buktikan tiap tahun kita buktikan swasembada swasembada swasembada," tekannya, dengan semangat yang terpancar jelas. "Tidak hanya swasembada beras, jagung, singkong, semuanya kita swasembada."
Panen raya itu pun ditutup dengan harapan. Sebuah harapan yang kini tak lagi terasa sebagai angan-angan, tapi sebuah janji yang sedang diupayakan. Di tengah sorak-sorai petani Karawang, Prabowo turun dari podium. Debu sawah masih beterbangan, membawa kabar bahwa satu target telah tercapai. Tantangan selanjutnya tinggal menunggu waktu.
Artikel Terkait
Dokter Tifa Ungkap Enam Versi Ijazah Jokowi, Soroti Emboss Misterius dari Polda
PKS di Persimpangan: Ikut Arus Kekuasaan atau Teguh pada Prinsip?
Ahok Bongkar Motif di Balik Wacana Pilkada Lewat DPRD: Ini Pasar Gelap Politik!
Retret di Hambalang: Prabowo Kumpulkan Menteri, Bukan Cuma untuk Evaluasi