Pertemuan ini membawa pesan moderasi yang kental. Dasco menyimak aspirasi terkait hak-hak sipil, sambil dengan halus menegaskan komitmen pada konstitusi. Tujuannya jelas: meredam polarisasi tajam yang kerap dipicu isu agama di media sosial.
Dasco berpendapat, DPR harus jadi rumah bagi semua.
"DPR itu rumah rakyat. Nggak ada pintu yang terkunci untuk aspirasi yang membangun. Setiap kebijakan harus lahir dari dialog yang jujur, bukan cuma ketok palu," tegasnya.
Dampaknya Nyata: Ekonomi pun Bernapas Lega
Lantas, mengapa pertemuan dengan dua tokoh yang begitu kontras ini penting? Jawabannya ternyata sederhana: kepercayaan. Kepercayaan pasar dan ketenangan di masyarakat.
Dengan mendekati Megawati yang mewakili arus nasionalis dan Abu Bakar Ba'asyir yang punya basis religius kuat, Dasco seolah menutup celah-celah konflik yang bisa menyulut instabilitas. Imbasnya terasa pada iklim investasi di pertengahan 2025. Dasco paham betul, tanpa stabilitas politik, ekonomi bisa limbung.
"Kepastian hukum dan keberlanjutan kebijakan itu kunci. Tanpa itu, ekonomi kita bakal di tempat. Rakyat butuh bukti, bukan janji," pungkas Dasco.
Memang, langkah-langkahnya ini bukan tanpa risiko. Tapi di tahun yang penuh gejolak ini, upaya menjembatani jurang yang dalam justru terasa seperti oase. Ia mengingatkan kita bahwa dialog, sesulit apa pun, selalu lebih baik daripada diam yang membekukan.
Artikel Terkait
Analis Bongkar Agenda Terselubung di Balik Janji Kerja Mati-Matian Jokowi untuk PSI
Kata Cangkem Dahnil Anzar Picu Gelombang Tuntutan Pencopotan
Desakan Pencopotan Dahnil Menguat, dari Internal Muhammadiyah
Kritik PBNU: Respons Dahnil Dinilai Abaikan Etika Pejabat Publik