Risnauli juga mengingatkan soal batas. Kebebasan berekspresi dalam demokrasi bukanlah kebebasan tanpa tapal batas. Setiap ucapan di ruang publik, apalagi dalam situasi darurat bencana, harus mempertimbangkan dampaknya. Dampak sosial, psikologis, bahkan hukum.
“Demokrasi bukan berarti bebas melukai,” tambahnya.
Ia pun mengajak semua konten kreator dan figur publik untuk lebih hati-hati. Lebih empati. Utamakan verifikasi sebelum bicara. Korban bencana butuh penguatan, bukan ketakutan baru. Mereka butuh empati, bukan sensasi.
“Jangan jadikan penderitaan rakyat sebagai panggung personal,” tutup Risnauli.
Sementara itu, Ferry Irwandi dalam unggahannya bercerita soal kabar-kabar "horor" yang didengarnya dari lokasi bencana.
“Ceritain aja lah, tadi aku dikasih voice note, dikasih cerita horor ada pemerkosaan ya,” ucap Ferry, seperti dikutip dari sebuah akun TikTok.
Ia menggambarkan kondisi masyarakat yang sudah porak-poranda. “Manusia dalam kondisi social culture, situasi kelompok masyarakat yang udah separah itu ya dan dalam situasi seburuk itu.”
Artikel Terkait
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo
Rocky Gerung Soroti Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump: Harga Sebuah Buku dan Nyawa Anak di NTT
Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Desak Prabowo Tindak Tegas Erick Thohir