"Rumah panggung yang dibangun itu memang ukurannya tinggi, sehingga masih bisa ditinggali meskipun banjir," imbuhnya.
Ia bahkan berseloroh, menyebut video di media sosial kerap tak menampilkan cerita yang utuh. Hanya potongan.
Di sisi lain, persoalan ini sebenarnya punya latar yang lebih panjang. Jauh sebelum video viral, Dedi mengaku sudah menawarkan solusi relokasi kepada warga di kawasan rawan. Sayang, tawaran itu tidak sepenuhnya diterima.
"Saya sudah menawarkan relokasi sejak saya dilantik jadi gubernur, tapi mereka tidak mau," ujarnya.
Upayanya tak berhenti di situ. Dedi juga pernah meminta data lengkap rumah di zona banjir kepada kepala desa setempat. Namun, permintaan itu tak kunjung dipenuhi.
"Saya sempat minta data semua rumah yang berada di daerah sana yang rawan banjir. Tapi kades tidak memberikan semuanya," tandas Dedi Mulyadi.
Jadi, masalahnya ternyata tak sesederhana rumah yang kebanjiran. Ada dinamika lain di baliknya, dari penolakan relokasi hingga data yang tak kunjung jelas. Semuanya berujung pada satu video yang ramai diperdebatkan itu.
Artikel Terkait
Dari Suara Aneh hingga Laporan Hukum: Kronologi Bocornya CCTV Rumah Inara Rusli
Jangan Beli Buku hingga Jauhkan Sapu: Pantangan Unik Sambut Imlek 2026
Dedi Mulyadi Siapkan 3.000 Lowongan Kerja, Utamakan Lulusan SMK Jabar
Dedi Mulyadi Dikritik Usai Turun Langsung Evakuasi Korban Longsor