"Rumah panggung yang dibangun itu memang ukurannya tinggi, sehingga masih bisa ditinggali meskipun banjir," imbuhnya.
Ia bahkan berseloroh, menyebut video di media sosial kerap tak menampilkan cerita yang utuh. Hanya potongan.
Di sisi lain, persoalan ini sebenarnya punya latar yang lebih panjang. Jauh sebelum video viral, Dedi mengaku sudah menawarkan solusi relokasi kepada warga di kawasan rawan. Sayang, tawaran itu tidak sepenuhnya diterima.
"Saya sudah menawarkan relokasi sejak saya dilantik jadi gubernur, tapi mereka tidak mau," ujarnya.
Upayanya tak berhenti di situ. Dedi juga pernah meminta data lengkap rumah di zona banjir kepada kepala desa setempat. Namun, permintaan itu tak kunjung dipenuhi.
"Saya sempat minta data semua rumah yang berada di daerah sana yang rawan banjir. Tapi kades tidak memberikan semuanya," tandas Dedi Mulyadi.
Jadi, masalahnya ternyata tak sesederhana rumah yang kebanjiran. Ada dinamika lain di baliknya, dari penolakan relokasi hingga data yang tak kunjung jelas. Semuanya berujung pada satu video yang ramai diperdebatkan itu.
Artikel Terkait
Fuji Laporkan Staf Admin, Dugaan Penyelewengan Dana Endorse Capai Miliaran
Kisah Pilu di Balik Aksi Spontan: Suami Pembela Istri Dijambret Kini Jadi Tersangka
Dentuman Misterius di Danau Maninjau, Meteor atau Bukan?
Warga Belu NTT Ditahan Usai Tembak Mati Burung Hantu yang Dilindungi