"Bukan cuma sekali. Ada beberapa kali pergerakan di jam-jam tertentu," jelas sang kakak.
"Dari pagi jam enam ada, terus jam sepuluh, sampai malam juga tercatat. Saya agak lupa detail jamnya."
Yang memberi harapan, pergerakan itu terdeteksi terus selama tiga hari terakhir. Malah, jumlah langkahnya disebut semakin bertambah. "Ini hari ketiga dia di hutan," tambahnya.
Dengan temuan ini, keluarga pun mendesak. Mereka meminta agar operasi SAR diperkuat.
"Kami mohon kepada Bapak Prabowo atau menteri terkait, tolong kirim lebih banyak personel dan helikopter. Cepat," pinta kakak Dian.
Sementara itu, profil Farhan pun mulai banyak dibicarakan. Dia adalah alumni Sekolah Islam Athirah Makassar, seorang pemuda aktif dan berprestasi. Farhan pernah menjadi Ketua OSIS di masa SMP dan SMA-nya. Setelah lulus, dia mengejar cita-citanya di dunia penerbangan dengan masuk Akademi Penerbangan Indonesia dan lulus sebagai taruna.
Operasi pencarian di wilayah perbatasan Maros dan Pangkep masih terus digenjot. Medannya sulit, hutannya lebat. Namun, kisah tentang smartwatch yang masih mencatat langkah itu setidaknya memberi energi baru. Sebuah harapan kecil bahwa Farhan, co-pilot yang dikenal gigih itu, masih bertahan di balik pepohonan Gunung Bulusaraung.
Artikel Terkait
Keluarga Co-pilot ATR 42-500 Berharap pada Detak Smartwatch dan Permohonan kepada Presiden
Koper Ratusan Miliar dan Bupati yang Akhirnya Terjaring OTT KPK
Pesan Terakhir Deden: Jaga Anak-Anak dan Doa yang Tak Pernah Terdengar
Dua Pendaki Saksikan Ledakan Pesawat KKP di Lereng Bulusaraung