Dedi Mulyadi Sentil Komersialisasi Hutan Ciremai: "Mending Dijaga Kuntilanak!"
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi punya permintaan tegas: tutup wisata di Gunung Ciremai. Tak cuma itu, ia juga menyindir keras sistem penjagaan hutan oleh aparat yang dianggapnya gampang bobol oleh kepentingan pariwisata.
Belakangan ini, KDM sapaan akrabnya memang gencar bersuara soal ancaman alih fungsi lahan di Jabar. Ia khawatir hal itu bakal memicu kerusakan lingkungan dan bencana. Sorotannya kini tertuju pada Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Menurutnya, aktivitas komersial di kawasan hutan itu harus segera dihentikan karena mengancam kelestarian alam dan merugikan warga Kuningan.
Desakan itu ia sampaikan dalam sebuah diskusi bersama Sekda Jabar Herman Suryatman dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Selasa lalu. Bagi Dedi, tugas utama Kementerian Kehutanan dan pengelola TNGC seharusnya menjaga hutan sebagai cagar alam. Kenyataannya? Mereka malah memberi izin untuk praktik bisnis dan destinasi wisata yang ujung-ujungnya merusak ekosistem.
"Kementerian Kehutanan itu tugasnya menjaga hutan, bukan membuat ruang usaha," tegasnya.
"Hutan bukan tempat usaha! Saya minta Pak Sekda buat nota dinas dan kirim surat protes resmi ke Kementerian agar komersialisasi ini dihentikan."
Dia memperingatkan, kerusakan alam di Gunung Ciremai bakal berimbas langsung pada warga Kuningan, entah lewat kekeringan atau bencana lain. Sementara itu, para pengambil kebijakan di pusat mungkin tak akan merasakan dampaknya sama sekali.
Dengan gaya bicaranya yang khas, Dedi lalu menyindir sistem penjagaan hutan yang menurutnya sering kebobolan.
"Mending hutan itu dijaga sama Kelong Wewe, Genderuwo, atau Kuntilanak saja, selesai."
"Kalau Kuntilanak mah tidak tahu caranya membuat izin kawasan wisata di dalam hutan," candanya, meski satirenya terasa pedas.
Sentilan untuk Bupati Kuningan
Di sisi lain, Dedi juga menyentil Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar soal transparansi lahan. Menurutnya, sang bupati kurang terbuka menyampaikan kondisi riil di lapangan.
"Waktu rapat resmi saya tanya ada alih fungsi lahan tidak? Dijawab tidak ada."
"Tapi di luar forum mengakui ada. Jadi pemimpin itu harus berani terbuka," ujar KDM tegas.
Kasus Penebangan Liar yang Menguatkan Kekhawatiran
Kekhawatiran Dedi bukannya tanpa alasan. Sebelumnya, tim gabungan TNI dan Balai TNGC sudah menggerebek dugaan penebangan liar di kawasan itu. Mereka menangkap satu orang berinisial N.
Menurut Humas BTNGC Ady Sularso, pengungkapan kasus ini berawal dari patroli dini hari pada Kamis pekan lalu. Tim gabungan dari Koramil Pancalang dan Polisi Hutan menemukan sebuah truk terparkir di pinggir jalan. Tak jauh dari situ, teronggok 16 batang pohon sonokeling yang sudah dipotong-potong. Diameternya sekitar 80 sentimeter, panjangnya kira-kira satu meter.
Kejadian ini seperti membenarkan kegelisahan banyak pihak. Bahwa ancaman terhadap Gunung Ciremai nyata adanya, dan desakan untuk menutup wisata komersial mungkin bukan sekadar wacana.
Artikel Terkait
Dari Suara Aneh hingga Laporan Hukum: Kronologi Bocornya CCTV Rumah Inara Rusli
Jangan Beli Buku hingga Jauhkan Sapu: Pantangan Unik Sambut Imlek 2026
Dedi Mulyadi Siapkan 3.000 Lowongan Kerja, Utamakan Lulusan SMK Jabar
Dedi Mulyadi Dikritik Usai Turun Langsung Evakuasi Korban Longsor