Protes pun dilayangkan. Massa mendatangi kantor polisi, tapi situasi dengan cepat memanas di luar kendali. Kemarahan yang tertahan akhirnya meledak dalam bentuk aksi anarkis: membakar dan merusak.
Di sisi lain, bagi banyak warga di sana, ini bukan sekadar soal satu orang yang dilepaskan. Ini tentang pola. Mereka merasa peredaran narkoba yang marak tak pernah diimbangi dengan penindakan tegas. Pelepasan terduga bandar itu dianggap sebagai bukti terakhir yang mengikis habis kepercayaan mereka.
“Kami tidak ingin bertindak sendiri, tapi jika kondisi seperti ini terus terjadi, kepercayaan masyarakat bisa hilang,”
tandas warga lain, menyiratkan betapa runcingnya situasi.
Sampai berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih tutup mulut. Kapolsek Muara Batang Gadis, Iptu Akmaluddin, belum memberikan keterangan saat dikonfirmasi. Begitu pula dengan Kasi Humas Polres Madina, yang juga belum bersedia menjelaskan detail insiden pembakaran yang memalukan itu.
Artikel Terkait
Dari Suara Aneh hingga Laporan Hukum: Kronologi Bocornya CCTV Rumah Inara Rusli
Jangan Beli Buku hingga Jauhkan Sapu: Pantangan Unik Sambut Imlek 2026
Dedi Mulyadi Siapkan 3.000 Lowongan Kerja, Utamakan Lulusan SMK Jabar
Dedi Mulyadi Dikritik Usai Turun Langsung Evakuasi Korban Longsor