TNI Mundur Taktis Usai Diserang WNA China di Ketapang

- Selasa, 16 Desember 2025 | 21:00 WIB
TNI Mundur Taktis Usai Diserang WNA China di Ketapang

Insiden Ketapang: Saat Prajurit TNI Mundur untuk Hindari Konflik Terbuka

Pontianak - Suasana tegang sempat menyelimuti area perusahaan di Ketapang, Kalimantan Barat, beberapa hari lalu. Kodam XII/Tanjungpura akhirnya buka suara, mengonfirmasi sebuah insiden yang melibatkan sejumlah warga negara asing China dan anggota TNI. Menurut keterangan resmi, para WNA itu menyerang dengan parang, airsoft gun, bahkan alat kejut listrik.

Kepala Penerangan Kodam XII/Tanjungpura, Kolonel Infanteri Yusub Dody Sandra, menjelaskan kronologinya di Pontianak, Selasa.

"Mereka menyerang anggota menggunakan senjata tajam berupa parang, airsoft gun, dan satu alat kejut listrik,"

Menghadapi serangan mendadak yang tak seimbang dan berpotensi membahayakan, para prajurit memilih langkah taktis. Mereka mundur. Bukan karena takut, tapi untuk mencegah eskalasi yang bisa berakibat lebih buruk. Mereka menarik diri ke area perusahaan, mengamankan situasi, dan segera melaporkan kejadian ini pada komando atas.

Akibat keributan itu, satu mobil Hilux milik perusahaan rusak berat. Tak hanya itu, sepeda motor Vario milik seorang karyawan PT SRM juga ikut dirusak.

Semua ini berawal dari sebuah laporan tentang drone. Kejadiannya hari Ahad sore, sekitar pukul tiga lewat empat puluh. Saat itu, prajurit Batalyon Zipur 6/SD sedang latihan di sekitar lokasi. Dari satpam PT SRM, datang laporan: ada drone tak dikenal terbang di area latihan militer.

Empat prajurit pun mendatangi titik yang diduga sebagai tempat pengoperasian drone. Benar saja, mereka temukan empat WNA China sedang asyik mengendalikan drone tanpa izin. Saat hendak dimintai keterangan secara prosedural, situasi berubah drastis.

Sebelas orang WNA lainnya tiba-tiba datang. Dan tanpa banyak basa-basi, mereka langsung menyerang dengan agresif.

Lantas, apa yang memicu semua ini? Diduga, akar masalahnya ada pada kekisruhan internal di PT SRM. Perusahaan ini baru saja mengalami perubahan kepemilikan dan manajemen secara hukum. Nah, manajemen baru ini sama sekali tidak pernah mengizinkan tenaga kerja asing untuk beroperasi di lingkungan perusahaan. Jadi, kehadiran mereka di sana sudah bermasalah dari awal.

Pusat Turun Tangan

Insiden ini rupanya menarik perhatian serius dari Jakarta. Plt Dirjen Imigrasi, Yuldi Yusman, menyebutkan sudah ada 26 WNA yang diamankan di Kantor Imigrasi Ketapang. Tim dari pusat pun sudah dikirim untuk berkoordinasi dengan aparat lokal.

“Perkembangan penanganan yang ada di Ketapang, saat ini kami dari pusat sudah turun, tentunya dengan dibantu oleh imigrasi yang ada di Ketapang. Kami sudah langsung berkoordinasi dan mengamankan, dibantu juga oleh pihak Kodim, Pak Kapolres, Polsek setempat, kemudian ada juga dari Mabes TNI,"

Yuldi menegaskan, kasus kerusuhan ini sekarang sedang diusut kepolisian. Tujuannya untuk mengungkap kemungkinan ada pelanggaran pidana di dalamnya.

"Kami mendapatkan laporan dari Kantor Imigrasi yang ada di wilayah Kalimantan Barat. Dan untuk WNA-nya saat ini sudah diamankan, sudah diamankan di Kantor Imigrasi Ketapang,"

Jumlah yang diamankan kemungkinan masih akan bertambah. Yuldi menyebut total orang asing di lokasi sebenarnya ada 34 orang. Meski informasi menyebut mereka berasal dari China, Yuldi belum bisa memastikan apakah semuanya berkewarganegaraan Tiongkok atau ada campuran negara lain.

Saat ini, situasi sudah bisa dikendalikan. Tapi insiden ini meninggalkan banyak pertanyaan tentang aktivitas dan izin para pekerja asing di daerah tersebut.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar