Starlink Gratis untuk Korban Banjir, Tapi di Lapangan Malah Disewakan Rp 20 Ribu per Jam

- Rabu, 03 Desember 2025 | 00:25 WIB
Starlink Gratis untuk Korban Banjir, Tapi di Lapangan Malah Disewakan Rp 20 Ribu per Jam

Bencana banjir di Sumatra belum usai, tapi kabar lain sudah bikin panas kuping. Layanan internet Starlink yang katanya digratiskan untuk korban, ternyata dikabarkan malah disewakan. Harganya? Sampai Rp 20 ribu per jam. Waduh.

Unggahan di media sosial jadi pemantiknya. Akun X @narraesya, pada Senin lalu, membagikan keluhan dari seorang teman di Langsa, Aceh.

“Teman saya di Langsa bilang, jaringan Starlink untuk korban banjir yang harusnya gratis malah disewakan 20 ribu per jam. Apa yang harus dilakukan? @elonmusk,”

Lengkap dengan tangkapan layar percakapan, yang menunjukkan keluarga korban harus bayar dulu cuma untuk dapat password hotspot. Padahal, tujuannya sederhana: memberi kabar bahwa mereka selamat.

Nah, setelah satu suara muncul, yang lain pun menyusul. Sepertinya ini bukan kasus tunggal.

Netizen lain, @yinyuujun, ikut bersuara. Menurut kesaksiannya, tarifnya bahkan lebih ‘fantastis’ untuk penggunaan yang sangat singkat.

“Benar. Ada yang ditarik 5 ribu untuk 5 menit. Sudah saya bilangin itu gratis, tapi tetap saja ada oknum yang memanfaatkan situasi,”

Kemudian beredar klaim bahwa perangkat yang dipakai di Langsa itu milik pemda, bukan bantuan langsung Starlink. Tapi ya, bagi warga yang terjebak banjir dan putus komunikasi, perdebatan teknis itu mungkin tak terlalu relevan. Yang mereka rasakan cuma satu: dimintai uang di saat yang paling sulit.

Cerita makin runyam dengan laporan tentang dua pria yang memungut biaya di sebuah jembatan dari Bener Meriah ke Bireuen. Rp 20 ribu per orang. Seolah-olah bencana jadi ladang cuan bagi sebagian orang. Miris, memang.

Tekanan publik yang kian kuat akhirnya membuat Starlink angkat bicara. Lewat akun X resminya, mereka memberikan penegasan.

“Untuk warga yang terkena dampak banjir besar di Indonesia, Starlink memberikan layanan tanpa biaya bagi pelanggan baru maupun lama sampai Desember berakhir,”

Klarifikasi itu terbit Sabtu, 29 November. Mereka juga menyebut sedang berkoordinasi dengan pemerintah untuk memindahkan terminal-terminal layanan, agar koneksi di daerah bencana cepat kembali normal.

Jadi, secara resmi layanannya gratis sampai akhir tahun. Tapi di lapangan, ceritanya bisa lain. Ada kesenjangan antara pernyataan perusahaan dan realita yang dirasakan warga. Siapa oknumnya? Masih jadi tanda tanya besar. Yang jelas, dalam situasi darurat begini, tindakan memanfaatkan kesulitan orang lain terasa sungguh tak berperasaan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar