Dampak Perang Timur Tengah: Pakistan Tutup Sekolah, Thailand WFH untuk Hemat Energi

- Kamis, 12 Maret 2026 | 03:30 WIB
Dampak Perang Timur Tengah: Pakistan Tutup Sekolah, Thailand WFH untuk Hemat Energi

Dampak perang di Timur Tengah ternyata tak cuma soal geopolitik. Perlahan tapi pasti, gelombang kejutnya mulai terasa di perekonomian negara-negara lain, bahkan yang jauh dari lokasi konflik. Beberapa negara, terutama di Asia, mulai 'mengetatkan ikat pinggang' untuk bertahan dari ancaman krisis yang mengintai.

Kebijakan-kebijakan baru pun digulirkan. Mulai dari hal yang terlihat sederhana seperti mengatur suhu AC, sampai langkah drastis menutup sekolah. Semua demi menghemat energi dan anggaran.

Pakistan Ambil Langkah Ekstrem: Sekolah Tutup Dua Minggu

Tekanan ekonomi memaksa Pakistan bergerak cepat. Awal pekan lalu, Perdana Menteri Shehbaz Sharif mengumumkan serangkaian kebijakan penghematan yang cukup keras. Yang paling menyita perhatian: seluruh sekolah di negara itu akan diliburkan selama dua pekan mulai minggu depan. Bayangkan, sekitar 40 juta siswa terdampak. Untuk perguruan tinggi, perkuliahan dialihkan sepenuhnya ke daring.

Tak cuma itu. Kantor pemerintah kecuali bank hanya akan beroperasi empat hari seminggu. Separuh pegawai negeri diharuskan kerja dari rumah. Bahan bakar untuk kendaraan dinas dipotong separuh, kecuali untuk ambulans dan bus umum. Bahkan pembelian mobil dinas baru ditunda sampai pertengahan 2026.

Di level pejabat, para menteri dan penasihat setuju melepas gaji dan tunjangan mereka. Anggota legislatif pun diharapkan memotong gaji secara sukarela sebesar seperempatnya. Pemerintah juga melarang penyelenggaraan buka puasa bersama yang berlebihan selama Ramadan nanti.

Latar belakangnya jelas: harga bensin dan solar baru saja melonjak 55 rupee per liter, kenaikan terbesar yang pernah tercatat. Sebagai negara yang hampir seluruh kebutuhan energinya bergantung impor, Pakistan sangat rentan. Setiap gejolak harga minyak global langsung terasa di dalam negeri.

"Untuk menstabilkan ekonomi, kami telah mengambil keputusan-keputusan sulit,"

kata Sharif dalam pidato televisi yang disiarkan ke seluruh negeri. Nada suaranya terdengar berat.

Thailand: Dari WFH Sampai Imbauan Naik Tangga

Sementara itu, Thailand memilih pendekatan yang agak berbeda. Perdana Menteri Anutin Charnvirakul memerintahkan pegawai negeri untuk bekerja dari rumah mulai Selasa lalu. Tapi aturan ini tidak berlaku bagi mereka yang tugasnya melayani publik secara langsung.

Kebijakannya terkesan lebih detail dan teknis. Misalnya, mengatur suhu AC di kantor pemerintah antara 26 sampai 27 derajat. Pegawai disarankan pakai kemeja lengan pendek, naik tangga ketimbang lift, dan mematikan peralatan listrik yang tak dipakai. Perjalanan dinas ke luar negeri untuk sementara dihentikan. Masyarakat pun diimbau untuk nebeng atau carpooling guna menghemat BBM.

Kalau situasi makin runyam, rencananya akan ada langkah lebih ketat. Misalnya, meredupkan lampu papan reklame di mal dan gedung komersial, atau menutup pom bensin lebih awal, jam sepuluh malam.

Menurut data, cadangan energi Thailand masih cukup untuk sekitar tiga bulan. Tapi masalahnya, 68% kebutuhan mereka bergantung pada gas alam. Makanya pemerintah sedang buru-buru mencari pasokan LNG tambahan, dari AS, Australia, sampai Afrika Selatan.

Jadi, meski responsnya berbeda-beda, intinya sama: negara-negara ini sedang bersiap. Konflik yang jauh di sana kini jadi urusan dekat di sini, memaksa setiap pemerintah memutar otak mencari cara bertahan.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar