Di sisi lain, ada cerita menarik yang muncul. Sementara mobil konvensional merosot, kendaraan listrik justru makin laris manis, khususnya di wilayah Jabodetabek. Bahkan, kontribusinya dikabarkan sudah menyentuh 25 persen dari total pasar. Perubahan selera konsumen ini patut dicermati.
Melihat peringkat merek, Toyota masih yang terdepan meski penjualannya merosot dari 22.522 unit di Februari menjadi 17.984 unit di Maret. Posisi runner-up dipegang Daihatsu dengan 8.916 unit, yang juga turun signifikan. Mitsubishi, Suzuki, dan Honda mengisi posisi tiga besar berikutnya dengan angka yang sama-sama tertekan.
Meski Maret suram, secara keseluruhan triwulan pertama 2026 masih ada secercah harapan. Penjualan kumulatif Januari-Maret naik tipis 1,7 persen menjadi 209.539 unit. Tapi, fakta bahwa bulan ketiga tahun ini ambruk menjadi sinyal peringatan keras bagi seluruh pelaku industri. Pasar kita ternyata masih sangat rentan dengan faktor musiman.
Namun begitu, tantangan tahun ini nampaknya lebih kompleks. Kondisi geopolitik global yang memanas, terutama ketegangan AS-Israel-Iran, membuat harga BBM fluktuatif dan ekonomi terganggu. Dampaknya merambat sampai ke showroom mobil di sini. Industri otomotif nasional dituntut cepat beradaptasi jika ingin kinerjanya pulih di bulan-bulan mendatang.
Artikel Terkait
DFSK Pamerkan Super Cab dengan Crane dan Gelora E Listrik di Giicomvec 2024
Jeep Indonesia Luncurkan Wrangler dan Gladiator Facelift 2026 di Hari 4x4
Australia Catat Sejarah: Impor Mobil dari China Kalahkan Jepang untuk Pertama Kali
WhatsApp Uji Coba Aplikasi Mandiri untuk CarPlay