Optimisme awal yang mendorong kapitalisasi pasar saham Microsoft melampaui US$ 3 triliun, bahkan melewati Apple, kini tampak pudar.
Pertumbuhan pendapatan Google Cloud yang hanya sedikit di atas perkiraan investor Wall Street, serta kalahnya dengan pertumbuhan Microsoft Azure, menjadi pukulan telak bagi para pemegang saham.
Baca Juga: Perbandingan Spesifikasi dan Harga Infinix Zero 30 5G vs Realme 11 Pro
Selain itu, biaya operasional data center Google yang diperkirakan akan melonjak pada 2024 untuk mendukung layanan AI mereka turut menambah beban keuangan.
Dengan pasar saham yang gemetar, masa depan teknologi AI tampaknya kini menjadi pertanyaan besar, memberikan peringatan bahwa tidak semua gebrakan teknologi selalu diikuti oleh kesuksesan finansial.***
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: tinewss.com
Artikel Terkait
Impor 105.000 Pikap India Ditangguhkan, Gaikindo Klaim Kapasitas Lokal Mencukupi
Changan Raup Ratusan Pemesanan dan Dua Penghargaan di IIMS 2026
Polisi Kanada Gunakan Drone untuk Tilang, Justru Dituding Sebagai Sumber Gangguan
Honda Stylo 160 Jadi Primadona, Wahana Honda Jual Lebih dari 500 Unit di IIMS 2026