Musim kemarau tahun ini bakal terasa berbeda. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan, kita harus bersiap menghadapi kondisi yang lebih kering dari biasanya. Periode April hingga September 2026 diprediksi punya karakter khusus: curah hujan rendah dan durasi yang lebih panjang. Intinya, tahun ini akan lebih kering ketimbang kondisi normal.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengonfirmasi hal itu. “Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami sifat musim kemarau di bawah normal, sehingga curah hujan berada pada kategori rendah. Kondisi tahun ini akan lebih kering dibandingkan normal,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (11/4).
Nah, yang bikin was-was, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga ikut mengintai. Sejak awal tahun, titik panas atau hotspot sudah menunjukkan peningkatan yang signifikan. Angkanya cukup mencengangkan: lebih dari 1.600 titik terpantau hingga awal April. Jelas, ini lebih tinggi dibanding periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya.
Lalu, apa penyebabnya? Menurut Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, dinamika iklim global memegang peran kunci. Fenomena ENSO, khususnya, jadi faktor utama yang memengaruhi.
“Pemanasan di wilayah Nino 3.4 berpotensi berkembang menjadi El Niño lemah hingga moderat, yang dapat menekan pembentukan awan hujan di Indonesia dan menyebabkan penurunan curah hujan,” jelas Ardhasena.
Ia menambahkan, periode kritisnya diperkirakan mulai Mei hingga September. Puncak ancaman karhutla paling mungkin terjadi pada Agustus dan September, seiring meluasnya wilayah dengan curah hujan minim.
Di sisi lain, ada sedikit celah untuk bertindak. Andri Ramdhani, Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, menekankan pentingnya informasi cuaca jangka pendek untuk mitigasi.
“Dalam sepekan ke depan masih terdapat potensi hujan di beberapa wilayah rawan, sehingga ini menjadi window of opportunity untuk pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca sebelum kondisi semakin kering,” ungkapnya.
Pemantauan Ketat dan Aksi Preventif
Menyikapi ancaman ini, BMKG tak tinggal diam. Pemantauan hotspot diperkuat secara real-time lewat data satelit yang diperbarui setiap lima menit. Sistem peringatan dini berbasis indeks kerawanan juga disiagakan.
Upaya pembasahan lahan pun sudah digeber. Tri Handoko Seto, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, menyebut Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) telah dijalankan di sejumlah wilayah prioritas. Riau, misalnya, jadi salah satu target sejak 28 Maret lalu.
“Operasi modifikasi cuaca di Riau telah menghasilkan tambahan curah hujan yang signifikan, mencapai ratusan juta meter kubik, sebagai upaya pembasahan lahan untuk menekan potensi kebakaran,” jelas Tri.
Pendekatannya kini lebih mengutamakan langkah preventif. Daripada memadamkan api, lebih baik menjaga lahan tetap basah sejak dini. Itu intinya.
Terakhir, sinergi lintas sektor dinilai krusial. Kepala BMKG Faisal mendorong koordinasi yang lebih rapat antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku usaha. Data tinggi muka air tanah gambut, misalnya, harus dimanfaatkan untuk meningkatkan akurasi intervensi di lapangan.
"Melalui dukungan data dan informasi yang akurat serta penguatan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca, BMKG optimistis upaya mitigasi karhutla 2026 dapat dilakukan secara lebih efektif dan terkoordinasi guna meminimalkan dampak terhadap masyarakat dan lingkungan," pungkas Faisal menutup pernyataannya.
(Nadya Kurnia)
Artikel Terkait
Pemerintah Pastikan Harga Beras SPHP Tidak Naik Meski Dolar Menguat
Ledakan Petasan di Balon Udara Blitar Tewaskan Pemuda, Lukai Dua Anak
Prabowo Penuhi Undangan Macron ke Paris, Kunjungan yang Sempat Tertunda Kini Terlaksana
Penjualan Tiket Pelni Tembus 39.797 Selama Libur Iduladha, Bau-Bau dan Makassar Jadi Rute Favorit