Waspadai Risiko Kesehatan di Balik Kenikmatan Seblak yang Sedang Tren

- Minggu, 12 April 2026 | 07:15 WIB
Waspadai Risiko Kesehatan di Balik Kenikmatan Seblak yang Sedang Tren

Kalau kamu jalan-jalan ke kota Bandung atau sekadar lihat deretan pedagang kaki lima, hampir pasti kamu akan menemukan seblak. Makanan satu ini memang lagi naik daun banget. Disukai dari anak kecil sampai orang dewasa. Cita rasanya yang gurih, kuahnya yang kental berempah terutama dari kencur dan bawang putih ditambah topping seru dari kerupuk basah, mi, sayuran, ayam, hingga seafood, bikin siapa saja tergoda. Harganya yang terjangkau jadi nilai tambah, membuatnya makin digemari.

Tapi, di balik kenikmatan yang menggugah selera itu, ada hal yang perlu kita pertimbangkan. Mengonsumsi seblak terlalu sering, apalagi setiap hari, ternyata bisa menimbulkan masalah kesehatan yang nggak main-main. Soalnya, selain kerupuk yang tinggi karbohidrat, penggunaan penyedap rasa dan garam yang berlebihan dalam seblak patut jadi perhatian.

Gastritis Erosif

Pernah dengar gastritis? Ini adalah kondisi di mana lapisan pelindung lambung mengalami peradangan. Nah, gastritis erosif terjadi ketika lapisan itu rusak, terluka, atau terkikis. Penyebabnya beragam. Bisa dari infeksi bakteri Helicobacter pylori, konsumsi alkohol, atau yang relevan dengan seblak makanan yang terlalu asin dan pedas.

Tak hanya itu, cedera berat atau luka bakar juga bisa memicunya. Kalau dibiarkan, kondisi ini bikin perut nyeri dan bisa berujung pada gangguan pencernaan serius, bahkan pendarahan.

Masalah Pencernaan dan Usus

Rasa pedas seblak itu datang dari kapsaisin, komponen aktif dalam cabai. Zat inilah yang memicu sensasi panas dan kadang nyeri. Kapsaisin menstimulasi saraf dan mempercepat gerakan usus. Akibatnya, produksi cairan di usus meningkat drastis. Usus pun nggak punya cukup waktu untuk menyerap air, yang akhirnya berujung diare.

Bayangkan kalau ini sering terjadi. Fungsi pencernaan bisa kacau, dan tubuh rentan kekurangan cairan.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar