LIVERPOOL Rumor tentang pembersihan skuad di Anfield mulai berembus kencang. Tapi di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu suara yang cukup keras menyerukan agar Curtis Jones jangan sampai pergi. Alasannya sederhana namun kuat: darah Scouser yang mengalir di nadinya.
Panel diskusi Inside Liverpool, misalnya, punya keyakinan sendiri. Mereka berpendapat The Reds harus selalu punya minimal satu pemain lokal di tim utama. Bukan sekadar pajangan, tapi sebagai penjaga identitas.
Memang, Jones bukan nama yang selalu tercantum di starting eleven. Tapi coba lihat penampilannya saat Liverpool menang 2-1 atas Everton akhir pekan lalu. Dia diturunkan sebagai bek kanan, dan performanya justru mencuri perhatian. Solid, tekun, dan paham betul atmosfer derbi Merseyside.
Kemenangan itu sendiri digaungkan oleh sang kapten, Virgil van Dijk, di menit-menit penutup. Hasil itu jelas sangat berharga, mendongkrak peluang Liverpool meraih tiket Liga Champions musim depan.
Namun begitu, kabar yang beredar justru berkata lain. Jones disebut-sebut bisa jadi salah satu nama yang hengkang musim panas nanti. Situasi yang ironis, mengingat jasanya baru saja terlihat.
Suara yang paling vokal datang dari Paul Smith, mantan petinju yang juga penggemar berat Liverpool. Baginya, kehadiran pemain asli kota ini di skuad adalah sebuah keharusan.
"Kalau kamu jarang main, mana mungkin bisa mencapai potensi maksimal? Itu berlaku di olahraga apa pun," ujarnya dalam podcast Inside Liverpool.
"Jones itu pemain lokal. Menurut gue, kita perlu selalu ada pemain Scouser di tim. Minimal di dalam skuad, untuk menjaga identitas dan rasa. Para pemain yang sudah bertahun-tahun di sini pun paham, mereka mengerti apa artinya ini bagi fans lokal," lanjut Smith.
Pembicaraan soal Jones sendiri dimulai ketika pembawa acara, Sam Ellard, membeberkan statistik mengesankan sang gelandang.
"Curtis Jones kemarin, selain menyelesaikan umpan terbanyak dan akurasinya paling bagus, dia juga melakukan pemulihan bola terbanyak. Menang duel sembilan kali di area pertahanan Everton. Luar biasa," kata Ellard.
"Aku sangat menghargai Curtis sebagai pemain. Aku agak kasihan sih, karena baik di bawah Arne Slot sekarang ataupun pelatih sebelumnya, dia jarang jadi pilihan utama. Padahal kemampuannya banyak, tapi sulit berkembang kalau cuma main satu dari empat atau lima pertandingan. Gimana menurut lo?" tanyanya pada panel lain.
Jermaine Pennant yang hadir sebagai tamu pun angkat bicara. Menurutnya, kemampuan Jones tak perlu diragukan lagi.
"Sudah jelas dia punya skill. Dan dalam derbi kemarin, cuma dia satu-satunya pemain Liverpool asli Liverpool di lapangan. Dia paham betul gimana rasanya derbi ini. Mungkin bahkan dia pemain terbaik di tim saat itu. Tenang banget bawa bola, fantastis," jelas Pennant.
"Cuma kadang, ya, pemain butuh kontinuitas. Butuh ritme main yang teratur biar kepercayaan dirinya naik. Ganti-ganti posisi, masuk keluar tim, itu berat. Entah kenapa, dia kayak nggak dikasih kesempatan yang sama seperti pemain lain. Mac Allister lagi nggak bagus-bagus amat pun tetap dimainkan Slot di depan Jones," tambahnya dengan nada sedikit kesal.
"Aku pengen lihat dia tetap di sini musim depan. Soalnya dia bisa diandalkan di berbagai posisi," tegas Pennant.
Di sisi lain, meski panel sepakat Jones harus dipertahankan, realitanya di lapangan lebih rumit. Kontrak pemain berusia 25 tahun itu tinggal setahun lagi pada musim panas. Meski sering dimainkan, catatannya sebagai starter di Liga Premier musim ini cuma 13 kali. Bukan angka yang mentereng.
Belum lagi kabar yang menyebut sang pemain sendiri kurang bahagia dengan perannya. Dengan Liverpool yang berencana meremajakan skuad, bukan hal mustahil jika masa depan Jones yang karirnya dimulai dari akademi klub justru akan berakhir di tempat lain. Situasi yang cukup pelik untuk seorang anak kota.
Artikel Terkait
I.League Kecam Keras Tendangan Liar Pemain U-20 di Elite Pro Academy
Muh Munir Ambil Formulir, Kontestasi Ketua Muaythai Sulsel Resmi Dimulai
Bonek Kritik Kebijakan Rekrutmen Pemain Asing Persebaya
Inter Milan Tantang Barcelona untuk Bertindak Nyata Soal Minat pada Alessandro Bastoni